The failedictorian

Hari ini ia bangun cukup pagi, menuju kamar mandi, menggunakan jas serta dasi yang rapi. Di luar jas itu, ia kenakan kostum panjang hingga lutut, topi kotak dengan tali menjuntai, serta medali perunggu berkalungkan pita kuning biru.

 

I look so Fucking hideous

Tentu ia tak punya terlalu banyak waktu untuk bersolek, keluarga telah menanti. Mereka semua gembira, bahkan ada yang datang jauh jauh dari Ibukota, bersusah payah meski banyak diantaranya yang sudah terlalu tua. Berfoto. Ucapan selamat, baik dari lidah atau berupa susunan huruf di layar warna warni. Hari yang gembira.

 

I still look so Fucking hideous

‘Toga’. Berkumpul mereka yang berkostum serupa di sebuah ruangan besar, menggema suara mereka yang bersuka cita. 1800 jumlahnya. Begitu bahagia hingga keheningan pun seolah penuh seruan, ada gempita, menggaungkan banyak cerita.

Hari terakhir mereka yang dirayakan dengan luarbiasa.

Kemudian ia melihat begitu banyak manusia. Ia menyaksikan setiap dari mereka disalami oleh sosok tertinggi sebuah institusi pendidikan, Ia saksikan bangga orangtua, wajah gembira, cita-cita, lompatan menuju dunia.

Kesia-siaan dan akhir.

1800 jumlahnya, 3 kali dalam satu tahun. Tentu jumlah tiap acara beragam, namun sedikitnya 2500 manusia diakui sebagai ‘terdidik’ di ruangan ini tiap tahun. Angka yang hanya berlaku baru untuk satu kampus saja. Sungguh makmur Negara ini bukan? Logika sederhananya seperti itu. Sayangnya ini jauh dari sederhana.

Apakah mungkin definisi ‘terdidik’ harus diturunkan?. Bahwa kata tersebut berarti siap kerja di perusahaan asing atau lokal terkenal, mencari uang untuk modal nikah juga ongkos sewa kuburan di San Diego hills? Mungkin berarti pengakuan masyarakat, agar bisa menjadi patron di atas ratusan ribu makhluk ‘kelas bawah’, Hidup indah, pesta pora di akhir minggu, liburan di akhir tahun, membahagiakan orang tua, membanggakan pasangan, sungguh kaum ‘terdidik’ ini begitu mulia.

Tentu saja ia tidak ungkapkan seluruh pemikiran ini. Karena teman serta sahabat di sekitar sudah bersiap dengan jawaban berbunyi serupa

‘dirimu hanya ingin sok beda! Sudah bagus dapat bunga!’

Maka ia diam. Melihat ke sia-siaan sebuah sistem pendidikan. Menyadari bahwa perubahan yang terjadi dalam dirinya hanya sebanyak jumlah huruf tersemat di belakang nama. Ia tertawa.

Karena tidak seperti dirinya yang tidak berubah, dunia sekelilingnya telah bergerak bahkan sebelum ia pernah sadar. Sebuah jabat tangan, rangkulan, senyum, tawa, bahkan pelukan, diberikan mungkin untuk terakhir kalinya saat itu. Beberapa terdiam. Beberapa lelah, beberapa menikmati setiap detiknya. Banyak diantaranya yang lupa. Akan cerita cinta, akan persahabatan, akan malam malam panjang di sebuah kafe murahan. Ada kesedihan, begitu banyak kekecewaan, yang dahulu memeluk dengan begitu erat sekarang berhenti bertegur sapa. Kepergian. Kesendirian. Perubahan yang tak disangka sangka. Sebuah akhir. Begitu berat bagi mereka yang sulit untuk lupa.

Seperti dirinya.

Yang tak sanggup lagi tertawa, sadar bahwa ia tak akan pernah lagi bertemu mereka.

Mungkin ia terlihat lebih buruk lagi sekarang.

 

I look even more hideous

Mungkin pakaian ini adalah peringatan. Pakaian ini berbisik sayup pada setiap pemiliknya. Satir menyebalkan yang mau tidak mau ia dengarkan.

Penampilanmu hari ini begitu buruk, karena dunia yang akan kau masuki sama buruk, atau bahkan jauh lebih.

Dan ‘terdidik’ berarti siap menuju kemunafikan.

Maka ia pergi kerja esok lusa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s