Cinta kemudian kuhampiri

Meringkuk cinta yang marah, mengangkat sedikit kepala memperlihatkan kedua mata kecewa.

Aku yang menjadi masochist abad ini ketika memutuskan untuk meninggalkanmu.

Cinta yang mengutuk dengan rapalan mantera anti bahagia, berkata bahwa ia tak akan pernah mendatangkan siapa-siapa untuk menemani sisa akhir hidupku.

Aku, masih penuh luka berkat sisa perang minggu lalu, menyandarkan diri di tembok sambil perlahan melipat kaki di depan dada, duduk tenang bersama cinta.

Ia tetap marah. Aku tahu itu maka aku tidak menatapnya, hanya diam menghadap ruang kosong di depan kita berdua.

 

Aku memberikannya untukmu, wanita yang akan mengertimu. Kau sadar bahwa kau bukan orang paling sederhana di dunia bukan?

 

Ia yang tak mampu menahan gerutu, akhirnya memutuskan mengeluarkan kesah dengan kata-kata. Terlalu manusiawi untuk makhluk seperti dia.

 

Kau berkata-kata?

Kau tidak menjawab kata-kataku.

‘aku tahu’. itu jawabanku untuk pernyataanmu.

 

Ia diam. Aku tidak pernah mengerti apakah memang ada tahapan dari sikap diam, namun ia terasa lebih diam dari sebelumnya.

Ketika seharusnya ia marah akan jawabanku.

 

Kau meninggalkannya.

Tidak. Aku meninggalkanmu.

 

Dan hilang sudah segala sisa kegeramannya. Ia yang masih membungkukkan punggungnya menatapku dengan tatapan iba. Seperti tatap seorang ibu ketika ia mendengar mimpi anaknya akan angkasa, berusaha memilah kalimat terlembut untuk menyatakan ‘Manusia tidak ditakdirkan untuk terbang’

 

Kau tidak bisa meninggalkan cinta.

Aku sedang mencoba.

Dengan melepaskan satu satunya tiket menuju kebahagiaanmu?

 

Lalu ia selonjorkan kakinya. Luapan aura kekecewaan seketika menyeruak ke seluruh ruangan, menghempaskanku. Jadi ini alasan mengapa selama ini ia memilih duduk meringkuk.

 

Aku hanya lelah dengan romansa. Terlalu berlebihan.

Lalu kau memilih sendiri.

Untuk meminta lebih darinya sama sekali bukan pilihan.

 

Aku merasa cinta telah mengerti. Aku berdiri dan bersiap meninggalkannya, membiarkan ia terkunci di ruangan ini untuk waktu yang amat lama atau bahkan selamanya.

Tapi aku rasa ia berhak mendengar alasan yang sebenarnya. Aku yakin ia cukup tahu, namun kurasa kata-kata itu harus keluar dari mulutku.

 

Karena akan datang waktu ketika ia meminta sesuatu yang tak bisa kuberikan.

 

Cinta tersenyum. Begitu hangat seolah memeluk seluruh penjara tempat ia meringkuk. Sebuah rumah tanpa pintu atau jendela yang kubuat khusus untuknya kini berubah terlalu indah, seolah ingin meruntuhkan dirinya sendiri. Cinta akan kutinggalkan. Aku tahu aku akan menyesal. Dan kata kata terakhir Cinta sebelum ruang ini kututup sepenuhnya membuatku nyaris mengurungkan niatan.

 

Ketika waktu itu datang, akan aku selamatkan kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s