Arsitektur manusia

Beberapa hari ini, saya dihadapkan pada pemikiran pemikiran akan pendalaman makna arsitektur baik berupa bangunan atau monumen. Bermula dari permasalahan yang butuh pemecahan, saya pun bergerak dari satu ide ke ide lainnya, dari suatu bentuk yang mencoba ‘menjadi filosofis’, dari nilai tak nyata yang berusaha diturunkan ke dunia melalui konstruksi dan dekonstruksi.

Arsitektur adalah tentang pembelokkan realita, saya kira. Mereka hadir dengan mengukir sekaligus menghilangkan satu batas, menjanjikan perspektif (dari mata) serta stimulan untuk indera lainnya. Realita yang dibentuk tentu bertumpu secara hati hati pada proporsi kekosongan dan isi, pada yang dipatok dan dibiarkan lepas, pada imajinasi. Disana, di dalam kerasnya beton dan tegasnya lekuk, suatu ketidakpastian saya temukan. Semakin tinggi suatu rimba, semakin besar warga yang bisa ditampungnya. Namun dalam konteks ini, rimba tidak lahir dari barisan pepohonan saling himpit, tetapi belasan yang menjulang; mega architecture yang dengan angkuh membentuk ulang sebuah ruang. Semakin besar ia, semakin besar pula bagian dunia yang ditundukkan manusia.

Lalu apakah arsitektur sebuah tindakan yang kafir? Saya kira tidak selalu. Ketidakpastian yang sebelumnya saya temukan tentu hadir dari sini. Ketika kontekstualitas menjadi amat penting, ketika bangunan, dibuat baik oleh mereka yang takabur atau rendah hati, tetaplah bergantung pada manusia. Dan manusia bukanlah makhluk yang paling mudah terprediksi wataknya. Manusia tidak diam. Manusia memodifikasi, sambil terus menempa dinding batasan kehidupan dengan martil martil teknologi, ilmu dan antropologi, menjadikan kata puas sebagai suatu kebohongan besar.

 

Dalam kontemplasi, secara tiba tiba hadirlah sebuah puisi. Cukup indah waktu itu, menari-nari di kepala saya berbagai tentang dunia yang diperkosa. Begitu banyak imaji monumen yang mencoba mengingatkan, atau gedung gedung yang mengindahkan satir sosial, terbentuk dari suatu rangkaian kata kaya makna. Namun saya yang sedang berlarian dengan bebas dalam sebuah padang ide sejuta warna, mendadak menabrak kasarnya tembok batu, yang kemudian runtuh seraya menepuk pundak saya. ‘bukankah sebuah puisi akan bangunan hanya akan memberi patokan?’, dan sebuah patok adalah hal terakhir yang ‘sayembara liar’ ini butuhkan. Karena memang yang patut dilakukan adalah menemukan permasalahan, bukan mencari carinya; menjadi bijak dalam arti yang sebenarnya. Dan mereka yang bijak tentu tak akan tega membiarkan sebuah ide tanpa henti menggempur dunia.

Mereka yang bijak akan berhenti.

Membiarkan ‘manusia’ terjadi.

Barulah disana, lahir sebuah bangunan yang menjadi puisi itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s