Tuhan, Dunia, Manusia

Saya kira manusia harus terus menjadi imitasi sang Ilahi, meski gagal.

Sebuah peran tuhan, adalah bentuk yang kita puja, berkat satu nilai dasar saja.

Adalah keteraturan, suatu bentuk yang manusia terus kejar, karena meski beberapa berbicara tentang sempurna, arti darinya adalah tidak pasti, tak tergapai seolah hanya figur mimpi.

Namun teratur adalah pasti, di balik kursi yang tertata rapi dan lantai kering kamar mandi, arti teratur bersembunyi.

Keteraturan dalam anggaran bulanan yang seimbang, dalam proporsi tubuh di depan sebuah cermin, dalam susunan rima sebuah puisi, adalah yang dipuja, yang manusia selalu dambakan.

Nyatanya Adam dijatuhkan ke dunia, sebuah tempat yang dibangun sebagai kutukan. Sebuah hukuman yang tak terelakkan.

Bagaimana tidak, kaum penyembah keteraturan ini dijerumuskan ke dalam dunia yang senantiasa bergerak menuju kekacauan.

Kita manusia, adalah makhluk yang tidak sepakat dengan alam. Kita bersihkan rumah dari debu, meski tahu esok hari mereka akan kembali untuk menyelimuti pojok-pojok laci dan perabotan. Kita basahi tubuh kita hanya di bawah pancuran atau kolam, di waktu-waktu tertentu sedangkan hujan datang tanpa peringatan. Maka atap kita bangun, maka payung kita ciptakan. Kita begitu benci dengan akar yang tumbuh liar, dedaunan yang jatuh tanpa aturan, maka kita pangkas ranting ranting, kita berikan sepeser dua peser uang untuk para pembersih taman.

Kita bangun sistem ekonomi, kita lahirkan angka angka, kita ukur reaksi kimia, kita klasifikasikan tumbuhan bahkan ras manusia, kita terus berusaha menciptakan dunia yang teratur.

Namun tentu sang ibunda acap kali berkata lain. Kadang ia datangkan badai tanpa sinyal, ia letuskan gunung tanpa gempa, ia perintahkan burung untuk menjatuhkan kotorannya di baju rapi para pekerja.

“Dan lihatlah sekelilingmu lalu nikmati sebuah siksa yang tak menampakkan wajahnya. Inilah hukuman sang adam. Jatuh ke dunia yang bertolak belakang. Yang terus kotor meski kau bersihkan, yang terus sakit meski kau sembuhkan”

Advertisements

One thought on “Tuhan, Dunia, Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s