Berhenti

Bayangkanlah aku dan kamu, bergenggam tangan sambil berbagi sendiri di suatu zaman.

Tempat dimana peristiwa hanyalah gema, tak ada yang bergerak, senyum menjadi kristal tanpa lekang detak.

Inilah dunia tanpa waktu.

Semua berhenti, tidak ada yang berakhir maupun terjadi.

Hanya ada satu peluk yang tidak selesai, semusim senyum dalam tatapan tak terlepaskan.

Aku, kamu, terpaku di bawah bayang-bayang sore hari yang enggan menjadi malam.

Kita tidak maju. Kita disini selamanya. Tidak ada tua atau resah. Kata cinta dibisikkan tanpa kenal lelah. Aku dan kamu yang tak saling cemburu, selalu mengerti lalu lupa arti sepi, terbebas dari takut akan perpisahan, senantiasa menemukan bahagia berkat bersama yang tak berhenti.

Kemudian di tengah-tengah suatu masa yang membeku, aku pun sadar, kemudian tahu.

Bahwa melarikan diri menuju abadi hanyalah bentuk caci maki sang pengecut terhadap hidup.

 

Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya.

 

Maka kita lepaskan peluk, meninggalkan tanah abadi, menujut kemelut. Untuk airmata dan sakit hati, untuk bahagia yang tak selamanya, juga tawa baru di setiap pagi.

Barulah pada hari itu, kita sungguh-sungguh hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s