Sebuah malam bersamamu. Tenggelam dalam perut yang memeluk rimba penuh kemelut. Kemudian bibir merah tersamar kelambu miskin warna. Kita pun menyadari betapa ekstasi menari nari.

Yang lain terpaksa berteriak di tengah sprei basah yang sama sekali berbeda. Bukan keringat lelah dalam desah, namun sambutan mimpi buruk, berulang sekali lagi. Tentu mereka lelah melihat ayah mati di malam hari. ‘Aku ingin nafas terakhirku dihembuskan bersama mentari pagi ini’

‘Satu hembusan nafas lagi, Kumohon’

Lalu terdengar 4 ledakan tiba tiba.

Wangi mesiu dimana mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s