Perbincangan pagi dengan ayah

Tugas Sisifus, pada pemahaman tertingginya, memang mengindahkan arti hidup yang sia sia.

Karena dirinya menegur kita semua, akan berbagai hal yang Lucretius katakan sebagai ‘tak berujung dan kosong’ – meski disejajarkan dengan politikus yang mengejar kekuatan.

Lucretius juga lupa, bahwa pada akhirnya semua ini tak berujung, siklus tak berhenti yang terpaksa dilakukan sekali lagi. Matahari yang terbit untuk terbenam, Ombak yang naik lalu turun sembari menipu pelaut pelaut setengah mabuk, alam yang memastikan adanya pengulangan; sama seperti kehidupan sehari hari. Yang kotor kau bersihkan untuk kembali kotor. Tanah kosong kau bangun untuk kembali runtuh. Kasih sayang kau bagi, untuk mereka yang akhirnya pasti mati.

Namun bayangkan lah Sisifus tersenyum dalam setiap pendakiannya, begitu kata Camus. Bukankah perjuangan itu sendiri, inti dari segala yang suatu saat pudar. Bahwa setiap perputaran, dari debu menuju debu, menjanjikan ‘Antara’.

‘Antara’ yang tidak pantas kita sebut sebagai ‘hanya’. ‘Antara’ sebagai segalanya. Dan jangan sekali kali kau remehkan pemahaman bahagia dunia fana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s