Para pendurhaka

Mengandung, kadang berjanji segala mungkin yang tidak pasti.

Bukan sekedar dititipkan nafas, namun dituntut untuk memberi sebagian dari milik. Maka tak aneh jika kepantasan setiap organisme untuk mengemban status ‘ibu’ acap kali diragukan, seringkali tidak bisa terukur dengan perilaku.

Mady Niobe adalah ibu yang jauh dari cacat. Ia selalu sanggup tersenyum setiap pagi sembari menghidangkan roti, mengelus wajah suaminya yang masih tertidur karena terlalu lelah dengan pekerjaannya kemarin sore. Tidak ada waktu luang untuk Mady, tepat ketika sang suami menutup pintu menuju Bengkel tempat ia menjadi montir, Mady akan mendengar rengekan sang bayi dari kamar ter ujung rumah mungilnya. Ia masuki ruangan berdinding merah jambu itu dengan cepat namun tidak tergesa, ia angkat bayi nya, ia balut dengan kain lembut kemudian ikatkan sang bayi yang tangisnya perlahan mereda ke dada; dengan cukup erat untuk menghindari dari jatuh, namun cukup longgar sehingga sang bayi tidak sesak apalagi tercekik. Setelah itu, sambil Meo sang bayi masih terlingkar di dadanya, Mady akan ambil sapu serta pel dari pojok ruangan dan bersiap membersihkan seluruh rumah.

Keluarga Mady tidak cukup berada untuk bisa menyewa pengasuh, lagipula mereka memang tidak butuh. Mady, yang mencuci seluruh pakaian bayi dan suami, menyikat tembok, membersihkan perabotan dari debu, membeli bahan makanan untuk kemudian ia masak, hingga sesekali membetulkan saluran air dan menyikat kamar mandi, masih sanggup untuk berjualan tahu di siang hari demi tambahan uang, masih memiliki waktu untuk bermain dengan bayi nya dan tidak sedikitpun merasa lelah apalagi jatuh sakit. Mady yang lahir dengan nama Medea, merasa dunianya berjalan dengan sempurna, dengan segala keterbatasannya, mulai percaya bahwa bahagia tidak datang dari kecukupan, namun perasaan berhasil mengalahkan kekurangan.

Medea adalah ibu yang rajin.

Medea adalah ibu teladan yang nyaris sempurna.

Medea tentu akan begitu dicintai dunia jika saja malam itu ia tidak memutuskan untuk bereksperimen dengan keluarganya.

Medea sang ibu, malam itu mengayun ayunkan Meo, dengan perlahan dan tenang, seolah ialah sang bumi yang sedang memanjakan manusia. Malam ini Mady tidak ditemani siapa siapa, Gulita pun terasa dikurung dalam ruang hampa. Hanya Mady yang perlahan mengitari pojok pojok tembok tersikat bersih seperti biasa, bermandikan sengat bau amis dan warna kemerahan yang menggenang di kakinya. Malam ini Mady bernyanyi, ia lantunkan nada surgawi untuk bayi yang sebentar lagi akan berhenti mendengar sama sekali. Gumam gumam panjang ini pun ia nyanyikan untuk suami tercintanya, yang sekarang berbaring di lantai dengan tenggorokan menganga terbuka, meneteskan cairan kental yang tidak lagi menyembur – sebagaimana ketika awal Mady memisahkan kepala dan tubuh sang suami dengan golok tumpul.

Lullaby and good night…
With roses bedight…
With lilies o’er spread
Is baby’s wee bed.
Lay thee down now and rest,
May thy slumber be blessed.

 

Go to sleep…

Go to sleep…

Go to sleep little princess…
with carnations covered,
Slipped under the bed

Sleep now peacefully, sweet…
see the paradise in your dream…

 

Maka di tengah tengah badai merah, Mady pun berhenti mendengar tangisan bayinya. Makhluk kecil itu sekarang hanya gemetar, bisa ia rasakan kegilaan di setiap gerak gerik ibunya, setiap lirik dari bibir, setiap langkah lembab di atas genangan darah ayah. Meo menatap ibunya. Ia pandang dalam-dalam setiap inci dari bola mata kecoklatan itu seperti kali pertama ia disusui dan memutuskan untuk tidak lagi bermandikan air mata. Ia pasrah. Kepasrahan serupa yang ditunjukkan oleh bayi manapun ketika mereka terpaksa lahir ke dunia. Kepasrahan yang seolah berkata, ‘aku terlanjur hidup, mau apa lagi?’, tepat setelah mereka semua lelah menangis. Kepasrahan yang senada namun untuk alasan berbeda, bahkan mungkin bertolak belakang.

karena bahkan seorang bayi bisa menyadari saat ia akan mati.

Aku dan dia terpana mendengar cerita itu. Sesosok pria bertubuh besar yang menghampiri meja kami tanpa alasan, bercerita mengenai siapa yang selama ini mengejar-ngejar kami.

‘lalu apa yang salah dengan rahangnya?’

Pria itu pun lalu menunjukkan ekspresi seolah berkata ‘I DO NOT ACCEPT QUESTIONS’, namun ia menjawab.

‘Mereka berkata bahwa rahang kirinya dirobek oleh sang suami, membuat nyanyian terakhir untuk sang bayi pun terdengar tak sempurna’

‘aku pernah dengar nyanyian itu’

‘semua yang ia hampiri pasti mendengar nyanyian itu’

‘seperti gumaman tak selesai, dengan maksud acak acakan’

‘ia hanya bermaksud untuk menelanmu’

‘telan saja aku, asal jangan dia!’

‘selamat siang wahai pahlawan!?, tentu ia akan menelannya setelah selesai denganmu’

 

— continue —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s