Prelude to Journey

Mungkin memang sebaiknya aku tidak mencintaimu terlalu banyak.

Karena kau bisa pergi kapan saja.

Atom bergetar dengan empat ratus kali kecepatan suara tidak akan terbendung oleh beberapa kata manis dalam petualangan satu hari.

Sebelum kusadari, lagi lagi belantara yang kita telusuri terbakar gemeretuk sepi.

Karena aku, kamu dan bumi.

Senantiasa berperang bersama langit malam.

 

Lembah gulita

Dalam gulita sempurna, dirinya tenggelam. Sebuah sosok yang ditinggalkan kepak, dibiarkan bahkan menembus bumi ini sendiri.

Tidak ada yang pernah berkata bahwa langit selalu melayang di atas kepala.

Lapisan terendahnya ternyata kita injak. Gua gelap, tak tertembus cahaya barang sebersit.

Disini dirinya harus menemukan pijakan tanpa mata. Ia harus bangun sekitarnya hanya dengan empat indera. Mengarungi lembah tempat terang hanyalah angan. Kemudian sadar, bahwa melihat tak selalu berarti tahu.

Cermin malam

Tentang berbagai takut yang manusia coba lawan dengan gemerlap cahaya serta perayaan. Selubung mistik yang diingkari, lalu pengetahuan merobek cemas ketidakpastian akan berbagai makhluk yang bersembunyi di pojok gelap. Manusia. Yang dahulu selalu sembunyi dan mengkhawatirkan akan datangnya matahari terbenam, mencoba melayangkan harapan dengan api, cahaya, ritual, percaya, gempita, pesta, rumah, keluarga.

Dan lapisan ini adalah gelembung perekam besar yang tak henti henti, menjadikan bayangan pasti dari filosofi malam, dari kenyataan akan kehidupan manusia di masa hari menjadi gelap.

Mereka berkata tuhan lahir di kala malam, kala manusia mulai bertanya arti dunia dan mengapa ayah mereka mati diganyang serigala. Maka inilah tempat bersemayam ribuan tuhan terkuat. baik yang telah tewas, maupun tetap bertahan. Tuhan yang lahir dari perburuan gelap sang pelolong purnama, tuhan yang bangkit dari khawatir dan ketidakpastian.

Mereka berkata semua ketakutan lahir di kala malam.

Lembah yang manusia lihat dari tanah sebagai liukan cahaya belasan warna pun mewarnai langit dengan indah. Cermin aurora, menyajikan segala kemungkinan bentuk kehidupan tanpa terang. Lapis pengingat segala kejadian yang malam janjikan semenjak manusia mengenal kata zaman.

 

Siksaan kanopi

Namun ia tak pernah menganggap ini siksa, ini adalah kewajibannya sebagai pelindung dunia. Ia tidak bertarung, tidak, tidak seperti penduduk lapis selanjutnya, ia hanya diam dan menyerap serangan kerajaan mentari, kerajaan terkuat di susunan galaksi bumi. Ialah wajah yang dititahkan sebagai tumbal, sebagai korban sukarela, sebagai layar pelindung untuk manusia – meredam pasukan surya, mematahkan tombak tombak ultravioletnya. Hingga ketika mereka memijak hamparan tanah, peleton peleton tentara bengis ini berubah menjadi sahabat, membawa hangat juga manfaat. Prajurit yang menjadi jinak.

Lapisan ini hanyalah padang luas yang dikelilingi garis cakrawala. Tidak ada apa apa kecuali sebuah pohon di utara. Gelap dan senantiasa harum, dahan dahan besar tak berdaun berwarna coklat dengan ujung ujung runcing, seolah membelah, merobek, menusuk kuasa langit merah di atasnya. Nyatanya hanya langit itu yang merekah, awan awannya menyala berkilau namun tidak begitu dengan daratannya. Karena dibawah bayang bayang sayap sang pohon raksasa, hanya ada sejuk, hanya biru yang dingin memeluk.

Benteng tiga tembok.

Ketika matahari melibas dengan cahaya, rembulan mengendap ngendap, menculik dengan licik, kekaisaran ruang hampa melancarkan tinju terkuat mereka demi hancurnya planet ketiga.

Sebuah tembok besar menandai ujung lapisan ini. Berdirilah barisan pelindung bumi; para ksatria angkasa dengan benteng berlapis gemerlap bintang dan baja. Planet ini, tempat yang manusia sebut sebagai rumah, senantiasa menerima serangan, telah hancur jutaan tahun silam jika bukan karena tetes darah serta serpihan perisai keluarga penjaga.

Disini, seratus tiga puluh juta dari mereka mati setiap pagi. Sisanya dihabisi menjelang sore. Hingga ketika malam datang, mereka bangkit dan bersiap untuk bertempur kembali. Mereka yang terpaksa mencicipi ruangan di lapis ke lima, harus menghirup aroma debu peperangan yang tak pernah pudar, mendengar bunyi bebatuan luluh lantak, menyaksikan benteng yang terus terbangun setelah berkali kali runtuh. Inilah lapisan yang menjadi satu satunya pertahanan ibunda dari bongkahan membara, peluru peluru semesta yang iri pada nafas di tenggorokan warga bumi.

Mereka, pelindung yang terus bangkit demi manusia, adalah kaum peri penenun petir. Guratan merah menyala yang kemudian mereka gunakan sebagai senjata, melintang dari kedua ujung lapis ini dan membentuk tembok pertama.

Tembok kedua adalah Kabut noktilusen, sejenis materi yang mereka gunakan untuk membentuk bongkah bongkah yang kemudian disusun sebagaimana mortar dan beton mengunci satu sama lain, meredam segala benturan bebatuan antariksa.

Yang terakhir, adalah tembok tanpa wujud berupa gumpalan gas biru terang yang bergerak laksana hujan. Pertahanan terdalam ini adalah tempat pengolahan residual, tempat berlindung mereka yang menggigil, sebagai pelarian dari lapisan terdingin langit ini.

 

 

Kota merah menyala

Gerbang yang dilapisi api. Gang gang yang mendidih. Inilah kota yang terbakar, dengan jalan dan dinding yang dipahat dari bara api dan panas matahari. Dua ribu tujuh ratus tiga puluh derajat, tidak kurang dan tidak lebih. Di setiap belokan gedung gedung pencakar langit, terpancarkan beton beton bermuatan listrik, menjilati satu sama lain dengan gelombang kejut, melelehkan apapun yang berada di antaranya. Namun tidak ada rasa panas. Bahkan tidak ada sedikitpun rasa. karena bahkan rasa telah dibakar lalu ditempa menjadi hampa, dalam sebuah kota tempat kulit seorang manusia tidak bisa menangkap apa apa.

Mereka yang hidup disana adalah refleksi satu sama lain yang terpisah semenjak awal zaman, dibatasi pagar yang tak menjanjikan izin untuk pernah menatap satu sama lain hingga akhir masa. Penduduk kota api adalah sekumpulan putra putri kembar yang tak bertemu. Begitu lama mereka berenang dalam ombak merah, kulit mereka bermorfologi menjadi bebatuan yang merekah bersama udara, mereka yang telah lupa arti ikatan saudara

Tidak ada pintu keluar. Membaranya setiap bagian kota ini bertujuan untuk itu; Agar tidak ada seorang manusia yang bisa menembus langit lebih jauh lagi. Ujung lapisan ini dibatasi oleh sebuah berhala raksasa berbentuk burung hantu dengan sayap terbuka, menutupi terowongan yang dahulu merupakan jalan terakhir menuju langit tertinggi. Api biru di setiap lembar bulu sayap itu dipompakan dari jantung kota sendiri, sebagai suplai panas tanpa akhir. Isolasi sempurna, isyarat keras yang berkata lantang: ini akhir dari perjalanan.

Lepas pantai udara

Ujung langit adalah sebuah gubuk tua dari jerami yang berbau amis. Disini tinggal seorang nelayan dengan selusin ikan kerapu yang ia pelihara. Dan ketika ia ditanya ‘nelayan macam apa yang memelihara ikan hasil tangkapan, bukan menjual atau memakannya?’, ia akan menjawab ‘nelayan yang tinggal di perbukitan, lagipula aku seorang vegetarian’. Ia berbohong.

Warna bukit ini terus menerus berubah, namun manusia akan selalu menangkapnya sebagai hijau. Bukit sebagaimana biasanya bukit, namun bukit ini adalah bukit tempat seorang nelayan pemilik batang penyangga langit tinggal. Di atap gubuknya berdiri tegak sebuah kayu pancing tanpa benang maupun kail, sebagai satu-satunya tumpuan seluruh langit dunia. Tidak ada yang spesial dari tempat ini, tidak ada yang berubah, tidak ada apa apa kecuali kemungkinan perbincanganmu dengan sang nelayan juga salah satu kerapunya yang bernama Michael (sebelas kerapu lainnya, seperti layaknya ikan, tidak bisa berkata terlalu banyak).

Jika sang nelayan yang ternyata bernama Kordi ini menyuguhi mu teh, minumlah! Namun jika ia memberikanmu kopi, kau harus menolaknya. Ia benci teh buatannya sendiri karena daun daun berputar dalam pusaran adukan mengingatkannya pada lembaran daun tertiup kincir. Berbeda dengan kopi pekat buatan Michael; Ia begitu menghargainya berkat aroma pahit asam pertanda musim semi yang tak pernah terjadi, hingga sebenarnya ia benci untuk membagi meski seteguk.

Namun nelayan mana yang berani untuk begitu tidak sopan, membiarkan tamunya tersiksa dalam dahaga.

Jika kau berpikir ini adalah satu syarat yang terlalu aneh, Jangan salah, “Hindari meminum kopi” hanya salah satu dari belasan pantangan di lapisan ini. Ada banyak aturan tak terduga lainnya demi menjaga emosi tak logis dari sang spesies terakhir nelayan langit.

Emosi.

Emosi Kordi amatlah penting untuk dijaga.

Salah salah kau bisa membuatnya marah.

Percayalah, kau tidak ingin membuatnya marah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s