‘ketupat’, ‘mudik’, dan ‘sungkem’ merupakan contoh lain dari interaksi antara religi dan tradisi di negara ini.

Bentuk interaksi ini wajar terjadi hingga masa kini, karena memang di masa awal penyebaran, tradisi dipercaya sebagai media religi.

Tradisi hindu yang mengakar pada masanya, ‘nyadran’, ter-reformasi menjadi ‘nyekar’ atau ziarah kubur yang banyak dilakukan di masa idul fitri.

Sunan Bonang, menjanjikan ‘kupat’ untuk mereka yang ikhlas berpuasa, bentuk yang hingga sekarang masih kita kenal sebagai hidangan hari raya.

Pagelaran wayang oleh Sunan Kalijaga, hanya mengizinkan masuk bagi mereka yang telah berwudhu dan mengucap syahadat.

Kesultanan Demak, pada masa Raden Patah, memperkenalkan upacara Sekaten di masjid agung : peringatan kelahiran sang rasul dengan iringan gamelan.

Juga banyak upacara adat lainnya seperti Mulud & Suro, atau Barzanji di Riau, di berbagai hari besar yg tersebar sepanjang tahun hingga saat ini.

Yang menjadi menarik adalah betapa agama tidak memutuskan untuk merasa sombong di atas tradisi, mau merendahkan diri demi bisa meraih hati.

Agama disini, hadir untuk dipilih, tidak memaksa namun mencoba mencocokkan diri. Kalo dipikir-pikir, seperti marketing saja. 🙂

Lucu jika sekarang kita berkoar kesakralan. Berbagai standar ‘sakral’ justru lahir dari proses akulturasi yang notabene tidak mrasa ‘benar sendiri’.

Mungkin tidak akan pernah ada advokasi bagi suatu agama, jika saja dahulu para penyebarnya berteriak, bukan mengajak.

Rendah hati. Menyesuaikan diri. Syarat sebuah paham bisa bertahan hingga nanti. Termasuk agamamu, termasuk agamaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s