Rapalan sembunyi

Penyihir putih merelakan sebuah keajaiban terlontar. Bersama kepak sama putih, mereka menyangsikan perpisahan kemudian berjalan menuju dua arah persimpangan.

Bagi mereka, tangis diri terasa terlalu berlebihan. Bagi mereka, yang dikenang logika hanyalah wajah wajah dan coretan di dinding.

“Karena toh hal hal rapuh belum tentu mudah dibunuh”

Tapi banyak di antara mereka mati karena dijaga oleh keranda bayi. Bagi kami, tegur sapa hanyalah dosa, dan malaikat menjadi penjagal senja hanya dalam cerita semesta.

Mantera-mantera hina.

Dibalas hingar bingar yang luput dari mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s