Wanita wanita Walt

Rambut keriting merah yang berkibar kibar dengan indah, diiringi bunyi pegas yang dilepas, tanda anak panah telah meluncur dengan ter arah.

Mirana amatlah jauh kepribadiannya jika dibandingkan dengan ekspektasi sang ratu, normalnya masyarakat pada putri raja, atau bahkan dengan jajaran Disney Princesses lainnya. Ia yang tomboy dan selalu siap beradu pedang, dengan gagahnya menaiki kuda besar menuju alam liar, tempat ia merasa patut berada. Dilengkapi ide tokoh utama yang begitu berbeda, Brave, sebuah karya terbaru Pixar, dibangun dengan plot dan detil cerita yang ‘tidak biasa’ hingga cenderung melompati beberapa pakem dasar kisah putri raja milik Disney.

There is no prince charming, no boy – girl romanticism, no musical scene, and with the absence of a heart pounding tragedy, the movie seems to lose its ‘princess’ feeling.

Tentu semua tahu, tentang Snow white yang mati suri, Rapunzel yang dikurung di menara tinggi, atau Duyung cantik yang cintanya dibatasi sepasang kaki. Berbeda dengan Mirana. Keluarganya baik baik saja, dunia nya pun normal, dan satu satunya yang ia hadapi hanyalah perjodohan yang begitu ia tentang. Kekangan orang tua ini saya kira potensial pada premisnya, namun memang pada fasa eksekusi, plot yang terburu buru dimuntahkan justru mementahkan rasa keterkaitan penonton dengan kesedihan sang putri Irlandia.

Mungkin karakter menjadi kunci. Karena dalam beberapa film Disney bertemakan kerajaan lainnya, sosok wanita cantik yang menghadapi kesulitan dunia dibangun dengan hati hati, cepat, dan acap kali berhasil merasuki hati. Musikalisasi menjadi jalan pintas yang tradisional, hampir pasti berhasil, namun sepertinya enggan digunakan kali ini. Teringat ketika Belle bernyanyi tentang dirinya sambil menyusuri kota di pembukaan Beauty and the Beast, dengan tambahan iringan warga sekitar yang ikut menyanyikan siapa itu Belle di mata mereka. Dalam hitungan menit, penonton berhasil mendapatkan bentuk kuliah termanis akan karakternya; melalui sebuah lagu. Bentuk musikalisasi ini juga terjadi di beberapa cerita putri raja lainnya. Aladdin dengan A Whole new world, yang dalam satu lagu berhasil membawa bukan hanya Princess Jasmine, namun kita sebagai saksi cinta mereka ke dunia baru yang terjelaskan dalam lagu. Spirit of the wind pun bekerja dengan serupa, keindahan magis tanah amerika yang belum tersentuh pada masa nya dipadukan dengan petualangan John smith dan Pocahontas, mampu menggambarkan cinta mereka hanya dalam dua kali refrain.

Kesulitan pembangunan karakter berkat fitur yang hilang ini, mungkin menjadi kritik. Di sisi lain, sebuah kritik tentunya harus memiliki tolak ukur, dan bagi perusahaan sebesar Pixar, tolak ukur tersebut adalah diri mereka sendiri. Therefore this new contender, Brave, remains unable to defeat the giant.

Dari berbagai unsur yang hilang dan ditambahkan, satu hal tetap terasa kuat bahkan dalam film ini. Pembuka setiap karya sang pelukis mimpi Walt Disney, dengan kastil dan kembang api selalu melambangkan dengan pasti judul iringan musiknya, When you wish upon a star. Brave tetap penuh dengan harapan ketika keberanian yang menjadi judulny tidak terasa terlalu santer. Sang putri berharap akan dunia yang ia inginkan dan harapan ini terjawab. Yang berbeda kali ini adalah pesan bahwa harapan bisa jadi menakutkan dan berbahaya. Maka pada akhirnya ia kembali berharap, mungkin pada bintang atau hal hal yang tinggi, agar dunianya kembali, agar kesalahannya bisa tersembuhkan.

Inilah sebuah bagian yang tak pernah hilang dari imaji semesta Disney. Ketika tanah dan rumput, istana dan permadani, bahkan koral dasar laut selalu siap untuk mengambulkan permohonan gadis gadis cantiknya. Sebuah dunia mimpi untuk anak anak, dunia yang indah, namun memang mereka yang terlalu polos harus dengan pasti diberi pengertian; tidak seperti peperangan yang terhindar berkat keberanian sesaat, kemarahan yang reda lalu terobati dengan jahit benang juga jarum, atau ibu Mirana yang kembali setelah peluk dan tetes air mata, penyesalan tidak selalu bisa dijawab dengan harap. Air mata seringkali hanya jatuh dan tidak berarti apa apa.

Mereka berkata when you wish upon a star. Para putri raja berharap dan pangeran tampannya datang dengan cinta dan begitu banyak makna cerita. Kita manusia, seringkali berharap dengan serupa, bahkan dibarengi dengan susah payah doa juga usaha, dan dunia hanya diam dalam bisu nya.

Lalu kita pun kembali memutar Film film Disney untuk sesekali mampu tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s