Penutup

Seorang kakek duduk dengan tumpukan surat surat. Lampu redup.

 

Voice over: Aku rasa pernah ada waktu ketika kau mencintaiku sepenuhnya, estiv. Ketika aku dan kamu tidak berarti terlalu banyak ketakutan, cerita yang disembunyikan, atau kebohongan perasaan. Namun waktu itu berlalu bukan? Semua hal berlalu bahkan untuk makhluk abadi sepertiku, sepertimu.

Seperti berna.

Aku sempat bertanya tanya. Tentang kita. Apa yang terjadi dengan kita. Dengan bersama dan saling tukar dunia. Tentang tawa yang seolah tidak sia sia. Tentang pagi mu yang terik dan siang ku yang hangat. Musim semi dan panas yang memintal debur cahaya mentari. Kita. Kata itu berarti lebih banyak dari yang pernah aku kira.

Pada akhirnya aku berhenti bertanya.

Aku tahu apa yang terjadi.

Berna terjadi.

 

Tamna datang. Dengan pertanyaan. Dengan bantahan. Namun justru peluk yang ia berikan

 

Tamna: kakekk…. (memeluk sang kakek) Apa yang sedang kakek baca?

Kakek: ini surat surat estiv dan vernili.

Tamna: surat? Jadi benar bahwa mereka bukan sekedar kisah?

Kakek: mereka hanya dongeng.

Tamna: surat itu?

Kakek: hanya surat surat.

Tamna: juga aku dan Mili?

Kakek: yang pasti kalian cucu cucuku.

 

Tamna kecewa. Ia mencoba untuk terus menanyakan, namun Mili yang berlari masuk, dengan sebuah mainan di tangannya, mengalihkan perhatian. Ajakan Mili untuk bermain dengannya pun ia gubris.

Sang kakek membaca surat lainnya.

 

Voice over: Vernili. Aku tahu sejuta kata dari ku berarti nihil. Hanya kosong. Tak perduli seberapa keras aku berteriak, seberapa banyak aku berbisik, sakitmu tetap di sana. Satu satunya penyembuh luka itu hanyalah kepulanganku. Dan aku tak akan pernah melakukan itu.

Aku disini.

Jauh darimu.

Dan akan selalu seperti itu.

Namun satu yang mungkin perlu kau tahu. Berna tidak pernah terjadi. Ia ada. sesederhana itu saja. Aku dan kamu telah tiada jauh sebelum datangnya. Musim panasku tidak lagi menjanjikan ceria. Hanya kemarau. Begitu pula semi mu. Hanya berisi warna warni tanpa arti. Atau sesekali suara serak gagak parau.

Kita hilang vernili. Tidak ada kita. Dan mentari yang kita lukiskan masa itu tak lagi tersenyum. Ia gemetar dalam gigil dingin. Dan aku pun terbiasa. Aku coba tenangkan setiap rasa, berlindung dalam salju yang katanya merana. Disana aku menemukannya.

 

Tamna yang bermain tidak bisa lagi menahan keingintahuannya. sambil duduk di depan adiknya, ia pun lalu bertanya

 

Tamna: mengapa tak kau ceritakan akhir dari mereka?

Kakek: dongeng itu?

Tamna: aku tahu itu bukan dongeng

Mili: apa maksud kakak?

Tamna: Mili… apakah kamu tahu mengapa nama Vaurmili?

Kakek: dan nama panjangmu Avtamna. Itu hanya kebetulan saja.

Mili: tapi aku tidak suka vernili.

Tamna: berhenti berkata seperti itu pada ibu!

 

Mili pun menangis, sang kakek menggendongnya sambil memberi isyarat pada tamna agar ia tidak terus berkata kata.

Tamna diam. Ia duduk di kursi kakeknya dan membaca lanjutan surat untuk vernili

 

Voice over: vernili… aku rasa begitu banyak kesalahanku padamu. Namun meninggalkanmu bukan salah satunya.

Kadang… untuk bersama bukan berarti bahagia.

Aku dan kamu. Kita. Tidak akan ada.

Yang aku punya sekarang hanya permohonan maaf.

Bukan untuk kita yang berakhir. Namun untuk segala kekecewaan yang terpaksa kau tanggung saat bersamaku.

Aku mencintaimu.

Namun dunia bukan hanya tentang itu.

 

Aku harap kau dan autumna menemukan arti bahagia dalam bersama.

 

Tamna menengok pada sang kakek

 

Kakek: belum waktunya untuk adikmu tahu.

 

Tamna mengangguk, ia hampiri sang kakek. Kakek menurunkan Mili dari gendongannya dan Tamna gandeng adiknya yang masih terisak. Keluar panggung.

Lampu meredup perlahan.

Tepat ketika Tamna dan Mili nyaris sampai keluar panggung. Tamna menanyakan satu pertanyaan terakhirnya.

 

Tamna: Kakek.

Kakek: ya cucuku.

Tamna: kenapa mereka akhirnya bisa bersama? Bukankah, kakek sebagai penguasa mereka. Yang memilih mereka untuk menjadi penjaga musim tidak akan mungkin mengizinkannya.

Kakek: kau tahu cucuku. Ada masa ketika setiap bagian dunia ini memiliki 4 musim. Sekarang tidak lagi begitu.

Tamna: Mereka tinggalkan tempat itu?

Kakek: Menuju kemarau dan hujan dingin.

 

Tamna dan Mili keluar panggung

 

Panggung gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s