Biru

Satu hari di bulan Juni.

Matahari berbinar senang, bersinar terang. Putih awan terbentang, hiasi langit biru tenang. Angin sejuk bermain riang, ajak pohon rindang, menari ikut iringan. Iringan piano merdu, memainkan lagu “Biru”. Lagu haru penghapus pilu. Sesosok pria gagah, dengan senyum merekah, memainkan piano dengan jemari terasah, menghasilkan lantunan musik indah. Menghibur seluruh isi rumah. Bukan rumah yang mewah. Rumah yang hangat, menyambut tamu tersesat, untuk menjadi sahabat bukan tuk sesaat. 

Lantunan lagu menghadirkan memori, yang tlah lama terpendam di sanubari. Menyentuh hati seorang tamu yang sendiri. Seorang putri, yang selama ini berlari, bersembunyi dari kenyataan berduri. Membangkitkan naluri, mencari yang membuatnya berseri. Menegakkan tubuh tuk berdiri, bersama bidadari, menari, mengikuti lantunan nada-nada tak sempurna, yang selama ini tlah tercuri. 

Nada-nada yang hilang kembali terngiang. Yang nyaris terbuang, kini terdengar berulang-ulang. Yang awalnya bimbang, datang dengan girang, meminta dengan gamblang, harapan tuk kembali didendang. Bukan hanya tuk dikenang. Melodi malang, terkekang dalam ruang gersang, kini terbang kencang, menentang yang menerjang. Bersatu dengan irama yang pincang, dan harmoni yang nyaris usang. Lubang dan jurang tidak berani menghalang. Yang ada hanya diserang. Tiada lagi nada-nada renggang. Yang ada hanyalah matang. Tiada lagi melodi sumbang. Yang ada hanyalah tembang yang riang. 

Waktunya pulang, kembali pada sayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s