Teater dan penghargaan

Sebuah seni peran, pada akhirnya adalah tentang kehilangan identitas.

Bukan berarti menjadi tidak yakin pada gerak gerik dan ekspresi, namun lebih kepada menemukan titik kosong akan diri sendiri, yang semenjak masa tersebut, sebuah tubuh bisa diisi oleh wujud lain, wujud apa saja, yang lebur dan senantiasa siap menerima berbagai bentuk. Sebuah jiwa yang dirasuki sadar diri.

Maka dari itu, medium dari sebuah hilang ini tidak sepatutnya diperlakukan semena mena. Sebuah panggung, yang memiliki harga dan sepantasnya diperlakukan seperti itu, hadir sebagai nafas yang senantiasa berdenyut bersama para penginjaknya. Harus diperhatikan, bahwa sebuah pementasan adalah kerja yang detil dan tidak dapat di generalisasi secara pasti. Teater tidak ‘dibuat saja’, atau dikonsepkan dalam satu malam. Teater adalah sebuah kerja besar yang keholistikannya dibangun dari bagian bagian terkecil. Satu orang yang berdiri di pojok sebuah panggung, intensitas cahaya yang diberikan, setiap mosi, setiap aksi, mereka adalah harga yang harus dibayar, atau dipenuhi dengan konsekuensi yang tidak ringan. Naskah, tentunya menjadi titik utama sebuah bentuk mampu siap berkembang, sebuah potensi diterbangkan, tapi penggarapan juga merupakan poin sama penting yang menjadikan bagian bagian setiap detil dihargai sebagaimana mestinya.

Tempatkanlah sepuluh pemeran dalam lakon sandiwara, tempatkanlah sebagaimana sebuah aturan harus menyatakan, namun sebuah adegan akan bergantung pada tarik ulur konsentrasi penonton. Mosi bisa merusak, maka dari itu sebuah benda bergerak –kursi goyang semisal – bisa dihadirkan untuk pengalih perhatian yang cepat, ketika sulap dan lompatan magis dicoba diberikan dengan sudden change. Yang mengagetkan, yang tidak dikira kira, dan tentunya yang indah dan bisa diterima, bukanlah kerja mudah, tidak bisa dipikirkan secara serampangan.

Panggung, juga mereka yang kerasukan di atasnya, adalah tempat para pemabuk diterima, justru diharapkan. Kelanjutan dari apa yang mungkin datang (pada audiens) kembali digantungkan pada sebuah usaha yang amat sulit, yang diperhatikan dengan terperinci. Scruter profondément amatlah mutlak sehingga mereka yang menganggap ini adalah subjek yang bisa dipermainkan, akan terjebak dalam jurang buruk rupa, terus seperti itu tanpa ada pengampunan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s