Teater Epik (naskah)

Mendiang republik, bagi kami adalah sebuah lompatan besar. Di tahunnya yang ke dua, baru kali inilah pementasan kami bisa menjadi pementasan yang terbuka bagi masyarakat. Ke tiga teater kami sebelumnya diadakan di tempat tempat lokal, yang juga memang sekedar mengincar target penonton yang lebih kecil.

Teater ini, yang bermula dari majalah epik, di masa masa awal terbentuknya hanya sebagai sebuah tombak pemasaran, program yang diharapkan bisa menyukseskan peluncuran setiap edisi majalah epik sendiri. Dengan sebuah sistem, yaitu menjual majalah sebagai tiket pementasan, terbukti teater ini berhasil menjadi sumber utama pendapatan kami, juga berhasil menarik animo yang cenderung tinggi, jika dibandingkan dengan sekedar menjual produk majalahnya secara sendirian.

Seiring berjalannya waktu, kami menemukan tujuan yang lebih mandiri, yang merupakan sebuah tujuan dari sebuah teater, terlepas dari produk majalah. Di satu sisi, bahkan dari awal terbentuknya majalah, kami dari grup epik berusaha mewujudkan sebuah cita cita, yaitu terbangunnya sebuah komunitas berkarya, apapun bentuk karyanya. Ada suatu keinginan mendasar dari harapan akan terbentuknya komunitas, sesuatu yang sederhana, yaitu kebutuhan kami mendapatkan teman teman baru. Inilah tujuan pertama dari teater kami, yaitu keinginan untuk terus menerus bertemu dengan teman yang beragam, karena kami percaya bahwa setiap pertemuan bisa mengubah nasib. Sebuah contoh yang menarik, dalam konteks Mendiang republik sendiri, bayangkanlah jika dahulu Bung Karno gagal bertemu dengan Mohammad Hatta. Entah apa jadinya Negara ini, entah apa jadinya dunia. Disitulah yang menurut kami begitu menarik, ketika pertemuan bisa mengubah nasib. Dan nasib ini bukanlah melulu nasib dua orang saja, namun di satu sisi nasib orang banyak, nasib dunia.

Tujuan kedua teater kami, mungkin adalah apa yang kami coba berikan pada masyarakat. Saya bersama teman teman teater epik, melihat ada sesuatu yang hilang, terutama di dunia hiburan. Saya masih ingat masa ketika sebuah CD musik berarti begitu banyak. Diri saya yang masih bocah semasa itu, mendapatkan kabar bahwa artis favorit saya telah mengeluarkan album baru nya. Maka saya menunggu. Sambil meminta kepada ayah saya untuk membelikan saya CD tersebut, mungkin akhir minggu, mungkin waktu kosong lainnya, namun yang pasti saya menunggu. Ketika penantian akan sebuah kepingan CD itu terjawab, maka tentunya saya nikmati lagu lagu dalam CD itu untuk mungkin sebulan ke depan, bahkan bisa ber bulan bulan. Di masa itu, hiburan adalah sesuatu yang dinanti, sesuatu yang patut ditunggu, pergi nya saya dengan ayah saya ke sebuah toko musik adalah Event of the week bagi saya. Suatu hari yang besar.

Namun tidak begitu sekarang. Dengarkan saja lagu di radio, kemudian sesekali menemukan satu atau lebih lagu yang menarik. Maka kita akan pulang ke rumah, membuka laptop, browsing internet untuk beberapa menit dan dengan mudah kita akan dapatkan lagu tersebut. Hilanglah hari yang saya nanti. Hilanglah masa masa menunggu, dan hiburan telah gagal menjadi sakral. Sedihnya, ini tidak hanya terjadi pada musik, ini juga terjadi pada banyak hal lainnya. Film misalnya, dengan jumlah bioskop yang luarbiasa banyak, Jumlah film yang juga tak kalah membludak, hilanglah sudah romantisme dunia hiburan. Tidak ada lagi rasa bangga ketika kita menonton film. Film hanyalah film. Toh tertinggal jadwal penayangan, DVD bajakan sudah siap tersedia, bebas dibeli.

Inilah yang kami coba kembalikan. Sebuah hiburan, sebuah event yang menyeluruh sehingga mampu menjadi sakral. Teater adalah jawabannya. Teater tidak akan pernah sama. Teater berubah, dan amat sulit bentuk aslinya untuk di digitalisasi. Akan selalu ada sensasi ketika kita melihat aksi panggung live, akan selalu ada rasa berbeda ketika kita melihat semangat yang dipancarkan, ketimbang melihat sekedar sebuah rekaman.

Maka dari itu, kami dari teater epik, dengan semangat mencari teman yang saya rasa dimiliki semua orang, juga keinginan untuk mengembalikan perasaan menanti datangnya sebuah acara hiburan, mencoba untuk terus hidup. Karena pada akhirnya, teater kami adalah komunitas terbuka, tempat setiap dari mereka bisa berkarya, maka dari itu hidupnya kami, bukan hanya untuk kami sendiri, tapi juga untuk khalayak yang terus ingin berkarya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s