bidadari pagi hari

Ia terbangun pagi ini dengan seorang wanita memeluknya. Berbaring di sebelahnya, di atas kasur ber sprei putih kecoklatan, bukan karena kotor, karena memang itulah warna kesukannya.
Wanita yang berbeda.
Selalu berbeda setiap pagi nya.
Namun hanya ada satu wanita di benaknya setiap kelopak mata itu ia geser bersamaan menuju rongga tulang jidat, seperti penjaga penjara-cahaya yang akhirnya diberikan izin untuk membiarkan sebanyaknya musuh menembus benteng okuler tak berdinding. Cahaya yang terpaksa menyeruak masuk itupun, sayangnya tak mampu menyilaukan bayangan wanita tersebut dari dalam pikir, bahkan menyamarkannya pun tak kuasa. Setiap hari baru, bentuk itu datang sejelas hari kemarin. Tak kurang dan tak lebih.
Sakit yang tak biasa, namun terpaksa ia biasakan.
Ketika mentalnya terjangkit ratapan delirius, tentang pertanyaan ‘ada’ dan ‘tiada’, kembali dalam gamang yang menyangsikan eksistensi wanita dalam benaknya. Mungkin jika bisa, setiap sel otak tersusun akan menggigil dan mengerang sambil terseok karena siksa akan sebuah bayang. Tubuh itu tak sanggup bergetar sebagaimana gemeretuk jiwa, namun percayalah, ia begitu takut. Ia begitu kesakitan. Imaji imaji akan wanita itu, dipadu dengan wajah selalu-lain yang tersenyum kepadanya, yang berbeda setiap harinya, seakan menjadi bebatuan runcing yang ditancapkan dengan kecepatan sebelas mikromilimeter per detik jauh ke dalam pelipisnya.
Yang ia lakukan setelahnya adalah menyeruput secangkir kopi.

Ia ucapkan selamat tinggal pada wanita itu, yang keluar dari pintu kamarnya dan pergi.
Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut. Dan tulisan pada secarik kertas itu menyentaknya, seperti biasa. “Hidup adalah persepsi dari realitamu”. Ia balik kertas itu. “Mulailah hidup untuk hari ini. Semua berubah. Mungkin kamu. Lebih pasti aku”.

Ia hiraukan dengan manis segala tulisan. Menghempaskan tubuh nya ke sofa berukuran tepat dua orang. Menekan tombol yang mengoperasikan gambar tanpa arti dalam kotak. Menggigiti sisi roti bakar, mencoba menghindari bagian yang masih terlalu panas untuk lidah. Seketika ia teringat. Akan senyum manis yang berbaring di sana. Membiarkan leher dan rambut ikal kehitaman tergolek tanpa tenaga di atas pangkuannya. Menatap dengan hangat, memperlihatkan dunia yang terpantul dari jernih bola mata dengan cermat. Ketika bayang dalam benaknya mulai termanifes menuju kecantikan terlalu nyata, ia melompat jauh dari kenyamanan sofa empuknya. Tak ia hiraukan remote dan roti yang berserakan di atas karpet, ia harus kembali ke ruang makan, yang ia lakukan adalah, menyeruput sisa kopi sedikit manis meski sekarang terlalu dingin untuk disebut nikmat.

Disana, ada dirinya yang mencoba menggenggam tangan wanita dalam benaknya. Dengan baju rapi, kemeja dan setelan biru tua hampir hitam, lengkap dengan dasi dan pantofel berkilauan. Wanita itu tersipu, seperti baru kali pertama jemari itu terjamah oleh jemari lainnya. Aroma ini. Di tengah tengah aroma parfum dan kopi yang masih saja terus menari, terdapat harum lain yang ikut bersama mengisi ruang tempat mereka. Bahagia. Bau yang estetis namun juga menggetarkan. Bahagia yang hanya menjadi kenang suatu masa. Maka tiga campuran bau dunia ini menari bersama waltz mereka. Berputar perlahan. Pinggang yang bertemu perut, dua tangan yang bersatu, empat bola mata yang beradu. Bayang dalam benak telah berhasil melepaskan diri dari belenggu pikiran. Mereka semua bernyanyi dengan tenang.

Tidak sanggup, ia kembali berlari.

Ia muak dengan ruang ruang terlalu luas. Ia butuh ruang sempit, ia butuh tempat yang bisa menghimpit jiwa nya serapat mungkin. Disana ia terduduk. Di sebelah pancuran yang menyemburkan cairan sedingin es, berharap bisa melunturkan api yang membakar sekujur perasaannya. Namun ketika tunduk lehernya tak lagi ditaati, ketika ia coba angkat kepalanya, berharap di depan tatapnya hanyalah kosong tembok kamar mandi, dirinya disana. Wanita dalam benaknya. Terduduk sama tinggi, menangis lebih keras dari dirinya. Dan entah mengapa ada seorang pria berdiri, yang ia sadari ternyata dirinya sendiri. Mencoba menghibur tangis sang wanita. Mengelus rambutnya sambil perlahan mematikan pancuran, mencoba memberi hangat dengan handuk yang ia lingkarkan dengan penuh kasih sayang. Pancuran itu mati. Dingin menyerang belulang dan kulit tipis selubung saraf, lebih ganas kali ini. Tidak begitu dengan dua manusia di depannya. Mereka memancarkan aura hangat, memenuhi ruang sempit ini hingga menyajikan sebuah sesak tak terelakkan, hangat yang amat ia rindukan, hangat yang telah lama hilang. Logika pun mencoba menjawab, namun rasa selalu punya hasil yang lebih tepat. Ia sadari bahwa hangat itu bukan sebab dari handuk dengan warna putih kecokelatan – yang memang berwarna begitu, bukan karena kotor – dilingkarkan pada tubuh wanita, juga bukan karena pelukan serta kecup di kening yang diberikan sang pria (dirinya) terus menerus, berkali kali, juga se lama mungkin di setiapnya. Namun karena mereka, di tengah-tengah sedih yang tak sanggup ia wujudkan kembali alasannya, masih memiliki satu sama lain. Dalam arti sepenuhnya. Dalam arti sebenarnya.

Setelah itu ia terbangun. Membasuh tubuhnya untuk beberapa menit, kemudian berpakaian. Pergi kerja hingga malam, lalu pulang. Bersiap untuk menjalani pagi yang sama. Setiap hari. Selalu.

Ia buka mata keesokan hari.

Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut.

Lalu semua terulang kembali

Ia buka mata keesokan hari.

Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut.

Lalu semua terulang kembali.

Ia buka mata keesokan hari.

Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut.

Lalu semua terulang kembali

Ia buka mata keesokan hari.

Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut.

Lalu semua terulang kembali.

Ia buka mata keesokan hari.

Sebuah roti bakar tertinggal, bersama dengan aroma kopi yang tak mungkin terlupakan. Ia berjalan menuju ruang tv. Aroma kopi menari dengan indah bersama wangi parfum yang tak terlalu menyengat, hanya sekedar lembut.

Lalu semua terulang kembali.

Hingga ia sadari, bahwa wanita dalam benaknya tak pernah pergi. Ia selalu bangun di sisinya setiap hari. Tidak ada yang lain, tidak ada yang pernah mati. Hanya perasannya yang begitu. Hanya dia. Yang tak lagi mencintai wanita itu sebagaimana dulu. Yang kehilangan seorang bidadari pagi hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s