Teater epik

Teater epik, berdasarkan teori Brecht, merupakan sebuah bentuk pementasan yang bertolak belakang dengan apa yang aristoteles sebut sebagai ‘Teater yang mengincar katarsis penontonnya”

Katarsis, atau penyucian, selalu bergantung pada adanya pelakonan yang ekstrim, dan cenderung dekat dengan emosi penonton.

Bentuk yang cenderung hadir dalam teater dramatik aristoteles ini menyajikan tragedi tragedi harian, yang tokoh tokohnya adalah representasi dari masyarakat sendiri. Di masa modern ini, dramatik acap kali dianggap dangkal – namun lembut untuk dinikmati, karena terlalu mengagungkan pergulatan emosi sehingga tidak banyak pemikiran pemikiran yang harus muncul, begitu sedikit analisa yang bisa lahir dari sebuah pentas tersebut. sekedar sebuah purgatori perasaan.

Dalam pementasan epik, dijauhkanlah lakon tersebut dari masyarakat, sehingga penonton tetaplah duduk sebagai penonton, bukan dipaksa terenyuh dengan jalan cerita, mala, juga gembira tokoh tokohnya. Adanya ruang yang dipertahankan ini, kemudian menghasilkan ranah untuk analisa, untuk perenungan pada sekitar. Maka teater bagi Brecht sendiri harus kembali menjadi sebuah penyadaran, bukan sekedar penggiring perasaan.

Teater epik, berdasarkan sutansyah marahakim adalah sebuah keluarga.

Dengan tentunya menggabungkan pementasan yang notabene menghanyutkan di satu sisi, namun kemudian melompat ke belakang, mencoba menyoretkan ilustrasi dunia masyarakat sekitar, dan memberi ruang untuk adanya pemikiran lalu tindakan. Teater penuh warna ini pula, yang tidak ingin melepaskan diri dari surealistik kepedihan Theatre of Cruelty Antonin Artaud, sesekali mencoba tragedi Aristotle, dan tentu saja, secara konstan bereksperimen dengan modernitas dunia hiburan.

Sebuah komunitas karya yang saya kira tidak akan ada habis habisnya, akan mencoba terus bernafas meski cekikkan selalu datang tanpa di duga duga.

Inilah teater kami.

Teater tanpa teori, hanya bermodal sebuah kata berani, mungkin sedikit kegilaan dari mereka mereka yang mencoba sisi lain ekspresi.

Teater yang begitu saya sayangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s