“Ku ingin menjadi alasan bahagia”

Mari kita lantunkan sedikit nada, atau sesekali meledakkan sejumput kata.
Untuk engkau, sebuah kisah putri raja dan mati nya pangeran yang lalu hilang dari mata.

Kulihat kaki kaki kotor. Kuludahi dan kupotong menjadi belasan kecil, kumaki satu atau dua kali, kemudian wajah seolah manismu hilang ditengah gerigi pelangi malam.

Namamu yang kuharap tak berarti apa apa. Tercantum dengan jelas dalam terlalu banyak potret kejadian. Mengagetkanku. Ber arak perlahan bersama nyeri di ulu hati sehingga aku tahu, setiap rasa ini enggan kamu perdulikan bahkan untuk sesekali.

Bidadari hipokritku, matilah kau bersama bintang-bintang yang tak mampu menemani rembulan berhias gulita. Terkutuklah engkau dan segala senyum manis itu. Tipu daya dan beberapa lapis dunia kini luruh perlahan, bersama aroma mu yang kian menjijikanku.

Lalu satu pesanku.

Cumbulah kembali setiap dusta mu itu. Dan dirimu akan mengerti. Betapa kau tak pantas untuk tersenyum setiap hari.

Karena bagi beberapa, engkau bukanlah alasan dari bahagia. Engkau penyebab dari himpitan duka dan sesak kata derita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s