Hari baik

Hari ini harus menjadi hari yang baik.

Karena bahkan untuk jenis makhluk tanpa otak sepertiku, Aku tidak termasuk dalam kalangan yang terlalu dipandang.

Tentunya dirimu mengira bahwa bentuk kehidupan yang seperti aku tidaklah beragam. Semua orang bekerja sesuai bentuk dan kodratnya. Ada yang menjaga tempat tinggal, mengolah makanan, merawat ibu besar atau bayi bayi nya, dan tentunya ada pekerjaanku, mencari suapan suapan demi kelangsungan semua.

Secara garis besar memang seperti itu.

Tapi aku kira, di dunia manapun ‘secara garis besar’ nya dengan mudah terlihat, tidak jarang disama sama kan.

Sayangnya setiap dari kehidupan tersebut tentu saja harus menikmati (baca: menahan derita) garis garis kecilnya. Akulah disini yang menjalani hari hari di liang sempit, merasakan serpihan kecil tanah tanah di bawah kaki setiap waktu, juga terus menerus berharap tempat tinggalku tidak hancur lagi bulan ini (sudah kira kira 4 kali aku berganti kamar karena badai besar).

Maka tolong jangan anggap remeh segala kekhawatiranku. Tolong dengarkanlah, dan coba pahami nestapa, kemarahan, juga ketidakpastian dalam ceritaku.

 

Dan seperti setiap jenis ratapan atau kegelisahan, dasar penyebabnya selalu sederhana.

 

Aku lelah menjadi insignifikan.

 

Itu saja.

 

Padahal untuk menjadi sesuatu yang penting, kurasa tidaklah sesulit itu. Banyak dari mereka yang tidak perlu bekerja keras. Hanya berdiam saja dan entah mengapa takdir bekerjasama dengan nasibnya. Lalu mereka mereka ini akan dengan bebas menjalani hidup yang kudambakan.

 

Apakah aku meminta terlalu banyak, jika sesekali bisa menemukan keberuntungan seperti dufi kecil? Masih dengan jelas kudengar, ketika ia berteriak di saat yang tepat ke arah langit, menantang dewa aonda, entah mengapa berhasil membuat arak-arakan awan mendung yang sebelumnya telah siap memuntahkan bulir bulir perusak rumah pudar. Sontak ia dicintai. Semua orang berbicara dengan penuh hormat padanya, beberapa membungkukkan kepalanya dari abdomen, yang lain menyapa seolah akrab, dan mereka yang buruk rupa, tak lagi merasa pantas untuk bahkan beradu mata dengannya.

 

Tentu saja, ia menjadi nabi kami semenjak itu. Pergi sudah ‘dufi kecil’ dari benak keluarga, setiap dari kami sekarang mengenal ‘hardduforah sang langit’, pembawa pesan dewa dewa baru. Pesan kerja keras. Pesan bahwa kami tidak perlu terlalu takut pada berbagai jenis amarah. Bahwa kami tidak perlu berdoa apalagi memberikan persembahan darah. Kami cukup bekerja saja. Ketidak beruntungan sesekali datang, tapi begitu pula keberuntungan. Doa tidak akan bisa mengubah itu.

 

Nabi.

Kalian pikir aku ingin menjadi nabi? Tentu saja. Namun aku sadar itu akan sulit. Seperti yang tadi sudah kukatakan, aku hanya ingin menjadi signifikan. Aku tidak ingin terlalu cepat dilupakan. Tidak perlu sampai nabi.

 

Mungkin akan menyenangkan jika aku aku bisa menjadi seperti si merah besar. Ia adalah anak hilang dari kampung sebelah. Ia amat kuat. paling tidak untuk otot dan bukan otak. Ia termahsyur karena kemampuannya mengolah kombinasi serangan dan pertahanan tangan kosong. Titik balik kepiawaianny dalam ilmu tarung tanpa senjata dibuktikan suatu hari ketika empat ‘preman’ pohon mencoba menjarah suplai cadangan makanan kami. Merah besar tidak ada disana seharusnya, namun ia tertidur di salah satu kereta sembako karena diusir dari sekolah. Terlalu besar tubuhnya untuk ruang kelas. Maka dia disana. Dan ia hadiahi belasan jotos untuk empat ‘preman’ ini.

 

“Bayangkan! Empat ‘preman’ pohon! Biasanya satu preman pohon saja harus dijatuhkan oleh tiga dari kita. Berarti kekuatan si merah sama dengan 12 kita!”. Begitulah kira kira apa yang di awal kejadian ini warga gosipkan. Si merah besar menjadi pahlawan. Seiring berjalannya waktu, nama besarnya tetap tidak memudar. Bahkan beberapa adik terkecil mulai menyanyikan lagu tentang si merah.

 

Cepat tinjunya, menakutkan segalanya.

Tanah pun mengigil mendengar derapnya

Menjaga kami yang lemah.

Meliuk, menyerang, melindungi dengan indah.

Berhati lapang dan tak pernah gusar.

Doa kupanjatkan untuk si merah besar.

 

Dan nama merah besar terpatri selamanya dalam senandung kegembiraan. Ketika hanya belasan saja yang bahkan sudi mengingat aku siapa.

 

Aku tentu tidak mungkin bisa menjadi seperti si merah besar. Begitu pula meniru si rasul kesiangan (ya ya, bisa kamu tebak aku tidak terlalu suka dengan dufi yang beruntung itu. Enak saja gonta ganti dewa, makin membuat jelas bahwa sebenarnya makhluk makhluk dibalik awan itu tidak ada). Aku, tolong jangan bosan dengan frasa ini, ingin menjadi signifikan. Apapun caranya, terserahlah.

 

Apakah kamu bisa bayangkan hidup seperti aku? Melihat ratusan ribu saudara yang tampangnya mirip mirip saja. Ratusan ribu itu pula bekerja begitu keras, terlalu keras bahkan semenjak datangnya dewa baru. Untuk apa? Keberlangsungan hidup bersama? Kebaikan yang holistik dan bukan sukses individu? Lama lama kami menjadi komunis jika terus menerus seperti itu.

 

Maka hari ini harus menjadi hari yang baik. Aku membuka mataku yang tak berkelopak, kemudian berjalan perlahan merangkaki liang liang yang sudah terlalu familiar. Jarak kamarku menuju bangsal utama tidaklah jauh. Keluar, kiri, kiri, kanan, lurus beberapa waktu, ada tiga belas belokan, ambil yang ke empat dari kiri yang pertama. Lalu belok menuju lorong nomor 7 dari kanan. Setelah itu akan ada akar menyembul dan disitulah jalan utama. Dari jalan utama, tentunya tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana cara menuju bangsal. Semua sudah tahu.

 

Di perjalanan aku melihat salah satu saudaraku sedang dipermainkan. Ia lahir setengah buta. Sekitar 7 orang sedang memainkan ranting sembari meneriaki si bocah dan mengayun ayunkan tali. Aku tidak tahu perlakuan apa yang sebenarnya sedang terpaksa diterimanya, namun yang pasti wajah si hampir buta amatlah tidak nyaman. ‘Wah, paling tidak ada tujuh jumlahnya yang mengingat nama saudara nyaris buta itu’, pikirku. ‘apakah sampai tujuh yang mengingatku?’.

 

Aku berlalu. Banyak kejadian aneh yang terjadi di perjalanan pendekku. Aneh berarti baik. Karena dengan keanehan, akan muncul sesuatu yang berbeda. Dan ‘beda’ adalah resep utama dari menjadi penting. Maka tentu hari ini akan menjadi hari yang baik. Tinggal menunggu waktu saja, maka kejadian aneh tentu akan menimpaku. Aku sedikit berkhayal kira kira apa yang mungkin terjadi. Apa aku akan tiba tiba menumbuhkan sayap? Menyadari aku adalah anak angkasa dan bukan kaum bawah tanah. Atau mungkin, aku mendadak bersin dan tumbuhlah sebuah tunas di hadapanku. Tentu aku akan dijuluki ‘peniup nafas kehidupan’, nama unik yang hanya mungkin diberikan pada mereka yang memberi atau mempertahankan nyawa (pada) sesuatu.. Tapi semoga saja kejadiannya tidak seaneh yang kutemui di perjalanan tadi, ketika entah darimana terdengar suara teriakan dan beberapa dari kerabat berlarian, kemudian dengan cepat membawa tubuh terkulai terbungkus daun, tergesa gesa menuju bangsal.

Itu baru aneh.

 

Dan akhirnya aku sampai di ruangan dengan langit langit tak berujung ini. Semuanya sudah berkumpul. Upacara pagi seperti biasa. Di beberapa waktu ibu akan datang, namun tidak kali ini. Kami akan berdoa, dipimpin oleh nabi baru kami. Kemudian kami akan dibagi bagi berdasarkan bidang pekerjaan. Dan dibagi bagi lebih lanjut bergantung hari apa dan cuaca. Semua berjalan tepat seperti itu. Seperti biasanya kecuali pengumuman khusus di akhir upacara.

“Berita duka telah menimpa adung si nyaris buta. Seutas tali yang tidak sengaja melingkari lehernya ditarik dengan tak sengaja, mematahkan ranting yang menahan berat badan tujuh orang”

lalu muncul satu persatu tujuh orang berbadan besar. Mereka amat merasa bersalah. mereka bercerita mengenai betapa mereka akan terus berduka untuk adung. Mereka hanya sedang bermain main. Tidak satupun menyangkan bahwa sedikit eksperimen pada keisengan mereka mampu melepaskan kepala adung dari dadanya begitu saja.

Sudah kuduga, tujuh dari mereka mengingat betul nama si setengah buta.

Aku dengarkan akhir upacara ini dengan biasa saja. Satu dari kita mati? Terjadi setiap hari. Bahwa penyebab kematiannya adalah saudara besar kami sendiri, mungkin itu cukup langka. Tapi belum terlalu menggugah untuk bisa membuatku meneteskan air mata.

Dan aku bergegas menuju hari baikku.

Kira kira dua puluh menit aku menggerakkan kaki kakiku dengan cepat. Di menit ke Sembilan belas aku sudah bisa melihat adanya cahaya hari ini. hari baikku. Aku gerakkan kaki ini dua kali lebih cepat setelah itu, mendahului setiap anggota pencari makan, bahkan pengawal pengawal kerajaan – mereka bertugas melindungi setiap anggota ekspedisi harian.

Hingga aku tiba. Di satu tempat yang berlantai abu abu kehitaman. Amat keras dan tidak mengotori kaki layaknya tanah merah. Disana, seperti kuduga, tergeletak cacing utuh dan besar, gemuk luarbiasa. Kemarin, aku temukan cacing itu sedang berjalan perlahan, tanpa menyadari serpihan garam tumpah tepat di depannya, maklum mereka semua lahir tanpa mata. Aku saksikan ia menggeliat geliat ketika garam itu menyumbat saluran pernafasannya. Sayangnya jumlah Kristal putih itu tidaklah terlalu banyak untuk membunuhnya dalam beberapa menit, maka aku putuskan untuk kembali lagi besok.

Dan hari inilah esok itu. cacing gemuk sekarang sudah berlendir, tidak bergerak dan hampir pasti tanpa nyawa. Aku tersenyum amat lebar meskipun tentu akan sangat berbeda bentuknya jika dibandingkan dengan makhluk berbibir sepertimu. Kulangkahkan kakiku satu demi satu. Perlahan kali ini, karena aku ingin nikmati setiap langkah terakhir diriku yang insignifikan. Setelah ini, sarangku akan bersorak sorai karena ‘jim si pembawa berkah’ berhasil mendapatkan jatah makanan satu musim. Cukup untuk bertahan selama dingin merajalela, dan membuat kami begitu benci untuk keluar rumah. Mereka akan memujiku, memujaku, meninggalkan si nabi palsu karena bagi kami, satu hal yang lebih penting dari lidah sang dewa, adalah makanan tanpa cangkang. Seratus persen daging. Empuk dan mengenyangkan. Tepat seperti cacing ini.

Aku hentikan langkahku di depan mayat-panjang lezatku. kutarik ujung kepalanya perlahan, dan tubuhnya pun terseret sedikit demi sedikit.

BRAK!.

Sepatu boot besar menginjakku dan cacing itu.

“Dasar semut menjijikan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s