Cancer (From the song by My chemical romance)

Semoga ini adalah versi yang lebih baik nya.

 

 

Aku menatap langit langit putih susu, lalu menyadari keberadaan seekor cicak yang berlarian kesana kemari, mencoba mencari suapan hangat dari serangga yang setengah mati.

Cukup lama aku terpaku melihat derita kadal tersebut, sambil dalam hati berharap ia tidak buru buru mati dan menimpa kepalaku yang terkulai tanpa tenaga ini.

Di titik itu aku sadar, betapa tidak berdaya nya aku, yang berumur kurang dari tiga jam lagi. Waktu yang tidak panjang, aku tahu maut akan menjemputku semasa usai operasi.

Aku tahu. Bukan hanya yakin tapi tahu, bahwa prosedur ini akan membuka gerbang ketenanganku. Aku tidak takut akan masa itu. Aku pun tidak takut akan berbagai siksa yang pasti kudapat di dunia sesudah fana sebagai ganjaran dari muslihat dan maksiat ku. Namun ini bukan berarti aku siap mati.

Kira kira setengah jam yang lalu, kedua orangtua ku masih berada di ruangan ini. Ayahku berdoa. Terus begitu semenjak kemarin dulu. Aku yang akhir akhir ini hanya bisa membuka mata sesekali, hampir tidak pernah menemukan ayah melakukan kegiatan lain. pernah satu kali aku melihatnya menonton televisi, namun tetap tasbih itu ia gulirkan butir butirnya dari jari ke jari, sambil menggumamkan apa yang kuyakini sebagai panjatan mohon yang berkali kali.

Lalu ibu. Terakhir kali aku melihatnya, ia sedang berbincang dengan perawat dan dokter, sambil sesekali tersenyum kepadaku. Mata ku, meski aku bisa melihat, tidak mengizinkan kelopaknya membuka terlalu lebar. Mungkin karena itulah ibu berkali kali memberikan senyum, karena ia selalu berada di antara yakin dan tidak, apakah aku sedang menyaksikan wajah cantiknya – yang selalu gagal menyembunyikan cemas –  semakin menua, semakin lelah, karena mengurusku yang tak kunjung membaik.

‘kak! Kak! Tahu tidak, air mata Chuck Norris bisa menyembuhkan segala penyakit! Jangankan Tumor, HIV pun bisa sembuh katanya!’ hening pun adikku pecah dengan suara nyaris bulat meski masih sedikit melengking. Aku tertawa seadanya. Aku terdiam sejenak, lalu berkata, ‘sayangnya Chuck Norris tidak pernah patah hati, apalagi patah tulang. Mustahil bisa kita dapatkan air matanya’. Kemudian adikku tertawa terbahak, hingga ibu memarahinya sambil sedikit menjewer telinganya. Ia masih sedikit tertawa.

‘tidak apa apa ibu’ ku selamatkan sang penghibur hari akhir dari jeweran susulan.

Aku terlelap setelah itu, menemukan hanya ada cicak kelaparan di langit langit, yang perutnya telah penuh sekarang. Menyantap serangga yang ia temukan di sela sela kusen dan jendela. Aku tidak bisa makan. Prosedur katanya. Begitu pula kepergian keluarga ku dari ruang kamar ini, kurasa adalah bagian dari prosedur pra tindakan yang entah penting atau mengada ada. Aku tenang saja. Aku kira waktu ku dengan mereka sudah cukup. Mereka pun telah cukup direpotkan olehku. Namun ada satu orang yang aku nanti. Satu orang yang begitu ingin kutemui paling tidak sekali lagi. Untuk terakhir kali.

Berbeda dengan perutku, kepalaku masih penuh dengan kenangan kenangan hidup. Sahabat sahabat yang sudah seperti teman seperjuangan, cerita cerita aneh seringkali lucu dengan para sepupu, belasan debat tak kunjung usai dengan segelintir orang yang mendadak akrab meski baru bertemu. Sebagai seorang penyanyi kelas dua yang masih meniti karir, juga salah satu anak dari keluarga besar yang begitu erat dengan satu sama lain, kira kira begitulah gambaran hidupku. Sangat berwarna. Luar biasa. aku bersyukur untuk segala bagiannya. Terutama malam itu. malam ketika aku masih bisa melihat pertunjukkannya, sebelum tubuhku digerogoti dengan perlahan tapi pasti.

Entah darimana aku temukan manusia setengah peri ini. Aku datang membawa bunga ke belakang panggung di akhir resitalnya. Ia tersenyum. Satu senyum yang membawa ledakan dalam jiwa. Mengukir kata bahagia. Seolah menggulungku dalam ombak tanpa dasar dan melepaskan beban dunia. Aku memeluknya. Ia membalasnya dengan sama erat. Aku tidak pernah tahu apa yang dirasakannya, namun Sembilan mawar putih itu ia dekap dan ia peluk aku sekali lagi.

Apakah aku melakukannya dengan baik?

Apakah pernah kamu melakukannya dengan buruk?

Dan ia pun megacak ngacak rambutku, seperti biasanya. Aku yang tentunya sudah tahu bahwa ia akan melakukan itu, tetap menunjukkan ekspresi kaget yang menurutnya amat lucu. Ia tertawa, aku pun begitu.

Malam itu terasa panjang. Paling tidak dalam benakku saat ini. gagal ku ingat apa yang kupikirkan waktu itu, namun sekarang aku begitu merindukan setiap kejadiannya. Masa ketika hidup itu berjalan sebagaimana mestinya. Masa sewaktu aku dan dia bergandeng tangan, menyusuri trotoar gelap yang begitu menyeramkan, namun kami merasa aman. We got each other, sambutnya. Nothing would harm us. Dan aku percaya itu. Hingga aku tersungkur beberapa langkah dari pintu apartemen, tepat setelah ia mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke rumah orangtuanya.

Aku kembali ke ruangan putih ini. Tidak baik melayang terlalu lama, apalagi di beberapa waktu terakhirku. Aku takut. Bukan takut mati namun ketakutan yang lebih menghancurkan hati. Maka aku tersadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku harus meninggalkan sesuatu. Paling tidak untuk sedikit meringankan sakit, agar perasaan miris ini tidak terus menghantui. Ku tarik tubuhku dari tempat tidur. Menuju piano kesayanganku yang dengan susah payah berhasil diizinkan masuk ke kamar rumah sakit yang cukup luas ini. Tidak pernah kubayangkan aku pernah akan menyentuhnya lagi, apalagi duduk di kursi tanpa sandaran itu. piano ini hanya disini untuk menenangkanku. Sebagai simbol. Namun dengan sisa sisa tenaga ku, ku tekan tuts demi tuts, kuhasilkan nada demi nada. Suaraku yang sudah hampir tidak ada pun berusaha melantunkan rangkaian kata. Ada sedikit rasa lega ketika kutuliskan lagu di penghujung nafasku.

Jari jariku yang lemah berteriak setiap kali kutekan kombinasi putih hitam bergantian. Namun teriakan mereka tertutupi oleh nada nada yang ku rasa amat merdu. Ada kisah kisah rasa malu. Kuharap dunia memalingkan wajahnya dariku. Begitu buruk rupaku. Begitu renta tubuhku.

Now turn away,

‘Cause I’m awful just to see

‘Cause all my hairs abandoned all my body,

Oh, my agony

Telah kulewati masa itu. Aku menerima diriku sebagaimana biasanya sekarang. Lalu ku ingat kembali. Masa ketika semua orang mencoba membuatkau bahagia. Menenangkanku yang sebenarnya tidak membutuhkan itu. Aku hanya ingin semuanya berjalan normal. Aku tidak butuh berbagai kebaikan yang dibuat-buat. Aku begitu ingin mereka berhenti berlaku manis padaku.

Help her gather all my things.

And bury me in all my favorite colors,

My sisters and my brothers.

Masa itu pun telah lewat. Tampaknya mereka akhirnya lelah menata runut aksara atau ekspresi setiap bertemu denganku. Lagipula buat apa? Kanker tidak akan sembuh dengan peluk, kata kata indah atau terlalu banyak senyum yang hanya membuatku bosan dengan kebaikan berlebihan.

Namun ada satu yang tak pernah kulewati. Ada satu sumber ketakutan yang tetap tak sepenuhnya hilang. Dan aku teringat masa itu. dan aku sungguh ingin meminta maaf pada dirimu

I will not kiss you,

‘Cause the hardest part of this is leaving you.

Aku tidak ingin memelukmu. Apalagi mencium bibirmu. Satu satunya yang kukatakan padamu setelah aku menerima vonis ini adalah ‘pergilah. Aku tidak pantas untukmu’. Tentu kau marah. Kau mengamuk selama beberapa lama hingga akhirnya terlalu lelah dan menangis dengan sedikit sekali suara. Semua bunyi yang seharusnya keluar bersama isak di ambil jatahnya oleh jumlah air mata. Aku diam. Hanya diam. Kukumpulkan barang barang milikmu, kumasukkan dalam kotak sederhana dan kuberikan padamu. Kamu menamparku ketika kulakukan itu.

But why? Kamu bertanya seolah memohon penjelasan, mungkin untuk ke tujuh kalinya. Aku hanya menggeleng, mengecup keningmu dengan dalam dan begitu lama lalu berkata, Because I want you to be happy.

Jika mereka berkata kanker perlahan merontokkan seluruh badan seorang manusia. Maka mereka salah. Tidak hanya manusia itu yang tumor ini gerogoti, namun setiap dari mereka yang berada di sampingnya. Itu terjadi pada keluarga ku, tapi tentunya tak bisa kulakukan apa apa untuk mereka. Sahabat sahabatku juga kehilangan waktu bincang panjang karena selalu berada di rumah sakit bersamaku. Namun mereka tetap memiliki hidup di luar itu. Mereka hanya kehilangan salah satu bagian darinya. Namun dia. Dia akan kehilangan semuanya jika terus bersamaku. Dia mungkin akan berhenti menari, mungkin akan terlalu sering menjalani hari dengan tangis dan cemas, dan aku benci itu. aku benci melihat ia menangis. Aku benci melihat penari paling cantikku tak lagi meliuk di bawah gemerlap lampu panggung, yang seolah mampu menerbangkannya dengan indah laksana dewi angkasa. Aku benar benar ingin dia bahagia.

Ia mendengar tentang penyakitku beberapa minggu setelah itu. Tidak sekalipun ia menghubungiku. Ia adalah wanita yang kuat, aku tahu itu. Ia adalah wanita yang tak akan pernah bisa ku mengerti, di sisi lain kusadari itu. Mungkin saja, bahkan di kecup kening terakhirku ia sudah sadar akan kesakitanku. Maka tiba lah saat ketika aku merasa ia benar benar pergi. Bidadariku akan benar benar terbang dan menjalani mimpinya sendiri. Aku menangis teringat masa itu. Aku menyesali kebisuanku. Seharusnya paling tidak aku teriakkan segala perasaan yang pernah ada, sekali lagi sebelum ia pergi. Betapa aku gembira mengetahui ia telah bahagia, namun ternyata tetap ada bagian dari diriku yang merindukan waktu waktu bersama. Ingin kubekukan dunia untuk mendapatkan sekali lagi saja sentuhan tangannya pada rambutku. Rambut yang sekarang sudah tak ada. Tangannya yang sekarang entah mengacak acak rambut siapa.

Sekarang, yang ada hanyalah tubuh lemah, sedikit sisa suara parau yang jauh dari indah, juga mungkin bait terakhir dari lagu penuh ketakutan.

That if you say…

Goodbye today…

I’d ask you to be true…

….

Ingin kunyanyikan satu kalimat terakhirku. Namun sepertinya tidak tersisa lagi tenaga di tenggorokan atau lidah ini. Aku terdiam. Aku tetap ketakutan. Aku kira aku tidak akan pernah siap mati jika memang seperti ini.

Hingga kudengar suara wanita yang tentunya jauh lebih merdu dari suaraku. Lembut nafasnya di sampingku. Rambut yang terurai, wajah yang tertutupi karena tunduknya namun ia duduk di sana. Dengan aroma tenang yang tak terkira. Malaikatku. Membunyikan sejumlah nada sambil bersenandung perlahan, melelehkan beberapa tetes airmata bersamaku. Menyanyikan rangkaian kata terakhir yang tak sanggup kututurkan sama sekali.

 

‘Cause the hardest part of this is leaving you…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s