Burn baby burn

Ia hujamkan tinju nya dengan bertubi tubi. Terus menerus ke benda merah besar itu.
Hanya bantalan, alat yang biasa digunakan bahkan oleh petinju petinju profesional.
Namun kali ini ia tidak sedang melatih keras kepalan, atau mencoba melemaskan otot ototnya.
Ia sedang melampiaskan kekesalannya yang paling dalam. Sebisa mungkin wajah wajah yang ia benci itu terbayangkan. Dirinya yang pernah menjanjikan bahagia. Atau dia yang entah apa, namun merenggut segala kemungkinan darinya.

Dirinya dan dia.

Malam itu, mereka seolah dirobek-robek oleh tinju nya. Terus menerus. Ber jam jam lamanya, bunyi bunyi mengerikan laksana tulang retak itu terus mengiringi suasana hening kamar tanpa penerangan. Hanya sedikit jilatan sinar entah darimana, sanggup menggambarkan siluet dirinya yang bersimbah keringat, tubuh yang sepenuhnya basah. Tanpa ada yang tahu bahwa sembab pelupuk matanya pun membanjiri pipi malam itu. Sebuah benci yang kali ini hampir murni, mungkin penyebabnya.
Diantara denyut jantung yang berderap cepat. Diantara dentuman dentuman yang ditelan gelap malam. Pikirannya melayang. Tentang dirinya dan dia. Tentang dirinya yang pernah begitu manis, pernah memberikan bahagia, pernah menjadi mimpi mimpinya.
Namun ada dia. Selalu ada dia yang tak pernah disangka sangka. Dia yang selalu bisa bersama dirinya. Dia yang menjadi awal dari kebencian sang petinju gelap malam. Dia yang terus menerus ia hujam dengan tinju. Meski hanya bayang. Meski hanya khayal.

Sungguh ingin ia hancurkan wajah mereka. Dengan kepalan ini. Dengan sekuat tenaga hingga semua perasaan ikut hancur bersamanya.

Di kedalaman kontemplasi ini, di tengah tengah merdu suara kepingan tulang yang beradu dengan bantalan padat, ia pun tertawa. Tertawa dengan amat keras hingga bulan putih-oranye pun menjawab tawa nya dengan bersinar lebih terang.

Terlihatlah selembar tubuh tanpa tenaga. Frustasi yang mencekam tercium menyengat dari tiap pori porinya. Tawa nya yang panjang tak kunjung usai, hingga rumput rumput pun seolah merinding. Melihat linang air mata yang menghiasi gelak miris nya. Memandangi sakit hati yang sekarang terlihat jelas bahkan dari pojok ruang tergelap.

Tawa nya berakhir dengan tangis. Tanpa suara. Hanya ratap.

Petinju ruang gelap itu tersungkur.

Dengan sejuta bayangan yang begitu ia benci.

Yang meski ia hantam berkali kali.

Selalu ada disana menghantui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s