Mungkin hampir dua bulan saya menikmati sebuah kisah.

Tentang bahagia yang menjadi candu. Tentang mimpi mimpi dan harapan yang mengukir dunia.

Membiarkan diri tenggelam, menjadi satu dengan perasaan tenang yang dirinya buat seolah nyata.

Berakhir sia sia.

 

Yang pasti, setiap manusia harus bangkit. Kembali pada apa yang menunggu dengan pasti, pada hari hari yang tidak terus menerus merajam diri dengan pertanyaan, dengan ketidakpastian yang datang terburu-buru menabrak sadar.

Mata ini pun kembali terbuka. Tidak lagi kabur berkat sembab air mata. Cukup kali ini saja. Setiap kisah adalah trauma, setiap derita adalah nyata. Dan hanya ada satu yang pasti. Bukan dirinya yang kusebut dengan berbagai nama. Namun gelisah. Gamang yang lelah. Sebuah lembah tempat aku akan bangkit dan terus tuju.

Karena dirimu hanya hidup dalam lagu.

Sesekali dalam tulisan yang penuh ragu.

Di satu sisi manusia adalah makhluk yang berlarian mencari tujuan.

Begitu membingungkan ketika cahaya disana tak kunjung terang.

Namun lebih mengerikan ketika ada kerlip yang meyakinkan, nyatanya tipu daya meng eja amat pelan.

Menarilah. Berlarilah. Atau merangkak menuju sang tujuan.

Dirimu. Tujuan. Diriku. Kau sempatkan.

Hanya menjadi beberapa lembar kisah dan benda benda yang tertinggal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s