Dunia yang lain.

Di dunia lain, ada saya dan kamu yang sedang tertawa, menikmati malam akhir pekan yang entah mengapa begitu sepi untuk kita.

Di dunia yang lain, ada kamu yang tersenyum menerima rangkaian bunga, atau hadiah hadiah yang dikumpulkan dengan susah payah. Kamu yang kemudian kegirangan melompat, memeluk saya yang nyaris jatuh karena tidak siap menerima lonjakkan keceriaan yang tiba tiba.

Di dunia yang lain, ada kamu dan kakak kakakmu, di beranda depan rumah yang selalu berarti kenangan indah. Bersamaku. Mengisahkan berbagai canda, mungkin ide ide gila. Sore hari yang tidak pernah mungkin kuharap diganti adanya.

Di dunia yang lain, ada kamu dan seorang ibu. Ibu terbaik yang dengan bangga ku panggil seperti itu. Ia mengelus kepalamu sambil menawarkanmu berbagai jenis kue, atau se porsi lengkap jika kau mau. Dirimu terus menerus menolaknya, namun perasaan aneh ini timbul dari perhatian seseorang yang mendadak menyayangimu. Sebagaimana ia menyayangi saya.

Di dunia yang lain, kamu terduduk sendiri di kursi terbaik pementasan tahun ini. Begitu ramai meski kau kali ini merasa sepi. Melihat saya yang berdiri di panggung, tenggelam dalam kontemplasi. Hingga akhirnya tirai itu tertutup, dirimu berdiri tepat di pojok tempat kau selalu menunggu. Dan seperti biasa, saya justru berada lebih dahulu disana. Dengan senyum paling lebar. Dengan bahagia yang tak terkira. Kamu berikan bunga itu untuk saya. Saya ambil namun tidak perduli. Saya hanya ingin memelukmu malam itu.

Di dunia yang lain, saya diberi kesempatan untuk mati matian mencoba mewujudkan mimpi mu. Untuk bernaung di bawah langit, bangunan terbuka tempat saya bisa menulis dan dirimu dengan tekun membaca. Entah apa, namun kisah di setiap lembarnya memberimu rasa beragam macamnya.

Di dunia yang lain, saya bersamamu. Diberi kesempatan olehmu. Di dunia tempat berbagai juang tidak selalu berarti sia sia. Di dunia tempat saya bisa membuka mata tanpa gelisah. Dunia tempat dirimu selalu ada sebagai jawaban semua resah.

Di dunia ini, saya kembalikan setiap benda yang mengingatkan akan dirimu.

Di dunia ini, terpaksa saya ganti namamu.

Di dunia ini, terucapkan ‘saya bahagia untuk kalian berdua’, dengan senyum di bibir. Mencoba menahan sejuta sakit dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s