“Turning saints into the sea”

“Autumna, kisah kita seharusnya berlanjut. Dunia akan mati jika musim gugurmu terus datang berturut turut”

Engkau harus memaafkan dia. Namun ia tak mungkin terlalu banyak menuliskan apa apa lagi. Tidak untuk kisah ini.

“Maksudmu penciptamu?”

pencipta kita semua.

“Penulis yang kehilangan pegangan itu?”

Jangan berkata seperti itu. Ia kehilangan jauh lebih banyak hal. Dan untuk kali ini, ia kehilangan berna nya.

“Ini bukan pertama kali dirinya kehilangan seseorang bukan?”

Tidak. Sama sekali tidak.

“Lalu apa?”

Sakit hati tetaplah sakit hati. Terutama ketika kali ini ia mencoba melakukannya dengan sebaik mungkin. Dengan benar. Tidak lagi mengejar yang terlarang dan telah termiliki.

“Seharusnya ini tidak lagi berakhir dengan tragedi?”

Seharusnya.

“Namun seperti biasa, ia kembali memuja pedih dan pengorbanan tanpa arti”

Di satu sisi rasa ‘yakin’ pernah ia coba. Bahwa bahagia adalah hak seluruh manusia. Maka dari itu tidak ada yang sia sia.

“Dan nyatanya musim berganti dengan harum sia sia. Waktu berlalu dengan jutaan janji sia sia. Setiap cinta adalah sia sia”

Bagi nya.

“Bagi banyak manusia”

Tapi kita bukan manusia. Kita hanya dampak dari inspirasi. Tokoh yang lahir, dan selalu mati. Yang mengikuti aturan aturan pujangga…

“…Yang pikirannya terpaku pada seorang berna. Yang bernama berbeda di kisah yang berbeda. Yang tidak seperti aku. Menikmati kisah nya bersama estiv nya. Estiv yang entah memiliki vernili atau tidak. Namun ia merasa estiv di dunia nya, juga begitu menyayangi berna nya”

Dan bagiku Itu hanya perasaan dia.

“Mungkin. Mungkin juga tidak”

Mengapa kali ini justru kau yang yakin?

“Karena aku berna. Dan seorang wanita tidak selalu berdua bersama seorang lainnya tanpa rasa apa apa”

Jika begitu, tentu penulis kita lagi lagi menjadi pengganggu sebuah kisah cinta.

“Seharusnya ia pergi saja”

Semua pun berkata begitu, kecuali satu tanya dalam dirinya, ‘Tak pantaskah ia bahagia untuk satu kali ini saja?’

“Mungkin tidak perlu”

Mungkin tidak perlu

“Jika begitu, maka kita akan terus seperti ini. Tak berlanjut. Mencumbu kalut dalam semesta di ambang hancur. Lalu tertidur, dalam sebuah dunia damai dan tak selesai”

Seperti berna nya; sebuah naskah tak selesai, Sebuah kisah yang di akhiri oleh cinta nya sendiri. Sebuah ‘tak pasti’ yang semestinya dibiarkan pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s