“Mengenang republik yang telah mati”

Sebuah frasa provokatif. Yang tentu nya akan dengan cepat menggerakkan leher publik. Yang dengan cepat pula ditolak oleh para konseptor pementasan yang akan di adakan tanggal 27 mei nanti.
Seperti biasa.

Namun saya tetap menyukai frasa ini. Dan saya tetap yakin, bahwa jika kampanye bertajuk kenegatifan ini jadi dijalankan, sebuah tombak tajam niscaya lahir. Menaikkan kecepatan dan persebaran pemasaran teater kami.

Tapi poin ini bukanlah satu satunya yang akan dibahas. Ada sesuatu yang menarik dari penolakan sebuah ide. Entah ini pantas di generalisasi, atau memang hanya terjadi di iklim diskusi saya, tapi penolakan menjadi hal yang biasa. Ide yang baik tidak pernah di uji berkat sebuah fatwa. Dan fatwa tersebut, datang dari dunia yang di adopsi oleh satu dua buah kepala.

Sebelum berlanjut, satu hal yang menjadi batas bahasan ini adalah ‘ide’ yang dimaksud bukanlah sesuatu yang absolut. Tidak berbau matematis maupun fakta. Ide yang mentah. Yang siap diludahi atau dipeluk. Ide ide seperti nama, seperti program, seperti tindakan. Dan bentuk seperti ini begitu sering dilemparkan dari mulut siapa saja, terutama di lingkaran saya.

Tidak hanya diantara saya dan sahabat, dalam setiap lingkar sosial selalu ada peran. Seperti dalam penilaian sebuah pedang, maka ksatria lah yang pantas menyatakan baik buruknya. Maka sebagai contoh yang lebih riil. Saya sebagai penulis naskah, memiliki hak perogatif dalam memberikan kritik ide pada salah satu nya. Dan ada pula ranah yang bukan milik siapa siapa. Seperti ‘mengenang republik yang telah mati’ ini. Yang ditolak tentunya. Karena dianggap ‘kurang enak’. Itu saja.

Absurd mungkin. Tapi begitulah adanya. Musik ini bagus, ini buruk. Desain ini indah, ini tidak. Kata siapa? Jika memang saya menyukainya, siapa yang berani bilang sebaliknya?.

“Karena bisa saja menjadi gagal jika dilemparkan pada pasar”, itu jawaban klise nya.

Hanya sebatas ‘bisa saja’. Lalu tentuny pembicaraan akan berlanjut hingga ke titik “lebih baik kita dengar pendapat mereka yang sudah berpengalaman. Yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya”.

Dan kami, seperti domba domba yang digembala pun mengikutinya. Mentaati prosedur yang ‘teruji berhasil’, mengharapkan keberhasilan yang sama.

Namun apakah ini poin nya? Apakah di masa nya, sebuah kegiatan adalah fotokopi dari kegiatan sebelumnya. Jika hidup memang menuntut ini, tentunya kita akan tetap menggunakan batu untuk memukuli sapi. Kita akan bertempat tinggal di gua gua. Kita akan menjadi purba.

Satu satunya keunikan manusia dari makhluk lain, adalah bahkan di tahap awal evolusinya, beberapa menggunakan ranting untuk mencari semut, beberapa menghancurkan sarangnya, beberapa memancingnya dengan tali yang dilumur madu.

Sebuah diversifikasi. Keunikan masing masing.

Maka dari itu, mungkin ada baiknya setiap bentuk ide tidak ada yang ditolak keberadaannya. Karena beberapa akan tetap memegang dan mengingat adanya nilai kebenaran, keindahan dibaliknya. Karena sebuah kertas dengan font helvetica (atau sejenisnya yang mirip) dan beberapa bulatan warna warni tidaklah sama dengan estetika.

Itu kalo mau idealis.
Kalo mau duit, ya hipster aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s