Adegan 4: cerita tua

Dua cucu. Laki laki dan perempuan, duduk bermain di atas karpet di samping sebuah perapian. Di samping mereka seorang kakek di atas kursi goyang, yang sedang membaca sebuah buku tebal.

Lalu kedua cucu pun berhenti bermain. Karena bosan. Mereka berpaling pada sang kakek dengan senyum dan sedikit canda.

 

Cucu perempuan: kakek, kakek, lanjutkan cerita kemarin.

Kakek: cerita? Ahh.. cerita mereka… coba kakek ingat ingat…

ya… hari itu Estiv menangis cucuku. Begitu pula Berna. Mereka meratapi nasib mereka. Kutukan mereka.

Namun kalian tahu. Vernili lah yang menangis paling keras.

Paling lama dan paling dalam.

Cucu laki laki: mengapa dia menangis kek?

Kakek: karena ia tahu bahwa meskipun ia selalu menjadi pemilik estiv. Ada bagian dari diri estiv yang tidak akan bisa vernili miliki.

Cucu perempuan: hati nya ya kek?

Kakek: hati nya.

 

Cucu laki laki: kek kek! Ceritakan lagi tentang masa lalu mereka.

Kakek: (terkekeh). Sudah berapa kali aku ceritakan itu.

Cucu laki laki: (sedikit merengek) tidak apa apa.. aku mau dengar..

Kakek: baiklah baiklah. Mili nggak apa kakek mengulang cerita kemarin

Cucu perempuan (Mili): (mengangguk)

Kakek: dahulu sekali… manusia hidup di dunia yang selalu stabil. Sebuah alam yang pasti. Tempat yang terhitung oleh angka angka. Seperti poros rotasi. Seperti derajat geografi.

Cucu laki laki: seperti jumlah cabang sebuah pohon!

Cucu perempuan: seperti waktu terbenam matahari!

Kakek: benar! Seperti semua hal yang bisa dihitung dan dilabeli angka. Tepat dan tidak berubah.

Cucu perempuan: kemudian alam pun bosan.

Cucu laki laki: dan memilih empat sekawan.

Kakek: sebagai tumbal perasaan.

Hanya manusia. Hanya kita yang selalu membawa dinamika. Tidak ada yang pernah pasti dari rasa yang didapat seseorang. Apakah jika dirimu tersenyum manis, sekitarmu akan membalas demikian?

Cucu laki laki: tidak selalu!

Kakek: tidak selalu. Rasa manusia tidak tertebak. Rasa benci pada yang paling indah. Rasa cinta pada yang terburuk. Seringkali sebaliknya, tapi tidak melulu. Tidak ada yang pasti.

Cucu perempuan: karena itu empat sekawan diminta mengawal kondisi bumi!

Kakek: merusak jadwal terbit sang matahari, menambah dan mengurangi cabang pepohonan setiap hari.

Cucu laki laki: mengubah sebuah tempat. Dingin, atau panas.

Cucu perempuan: menggugurkan daun! Atau menumbuhkannya!

Kakek: maka lahirlah para musim. Yang selalu berubah seiring perasaan penguasanya. Memiliki kesamaan di tiap datangnya, namun sesekali menampakkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Cucu perempuan: namun sang alam lupa.

Kakek: sang alam lupa. Bahwa ada beberapa perasaan yang selalu enggan berubah. Estiv dan Berna yang saling cinta. Vernili, pemilik Estiv yang tak kalah mencintainya. Lalu Autumna. Terdiam di pojok melukiskan wajah cantik Berna.

Cucu Laki laki: lalu apa yang terjadi dengan mereka?

Kakek: mereka akan terbagi bagi. Mereka yang begitu kuat terpaksa memecahkan diri menjadi bagian bagian.

Cucu perempuan: aku tidak mengerti.

Kakek: kamu akan mengerti mili. Semua pasti mengerti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s