Adegan 3: Taman musim panas

Sebuah taman yang cukup ramai.

Bangku di pojok ruangan, karpet piknik yang digelar.

Muda mudi yang duduk bermesraan, keluarga dengan anak anak yang bermain, kakek tua yang menikmati makan siang.

Sebuah air mancur di tengah panggung.

Seorang pengamen berdiri di depannya.

Menyanyikan lagunya (Lagu ini harus di aransemen)

Lagu musim panas. Tentang hangat udara yang seolah memeluk. Tentang cerah mentari yang membawa ceria. Tentang pasir pantai dan gelitik ombak. Tentang bercumbu dalam romansa taman terbuka. Tentang gembira.

Kemudian tepuk meriah datang dari setiap mereka.

Kotak gitarnya pun kini penuh dengan uang receh, cukup sulit ia coba masukkan gitarnya kembali dalam kotak, namun ia berhasil.

Ia bawa tempat gitar itu ke kursi taman, duduk bersebelahan dengannya.

Seorang pengamen dan tempat gitarnya.

Tersenyum gembira. Lebih lebar dari senyum manapun.

Hingga wanita dengan keranjang apel itu menghampirinya dari belakang

 

Vernili-yang-bertanya: seorang raja suatu masa.

Estiv-yang-bernyanyi: tidak melulu berarti penguasa.

Vernili-yang-bertanya: dirimu bisa menjadi elang yang menyelami udara, menjadi jilatan ombak yang menghibur sekaligus menghancur, atau bahkan menggulingkan pemimpin umat manusia dan menggantikannya.

Estiv-yang-bernyanyi: namun aku disini. Menjadi pelantun lagu gembira. Membawa senyum untuk semua.

Vernili-yang-bertanya: namun dirimu disini. Menjadi penyanyi jalanan. menurunkan derajat seolah hina.

Estiv-yang-bernyanyi: Tidak ada yang hina dari menginginkan senyum mengelilingi sekitarmu.

Vernili-yang-bertanya: dan jika yang kau mau hanya senyum, jangan disini. Buatlah sesuatu. Acara komedi, jadilah komedian jika perlu. Berikan uang, jadilah dermawan di setiap waktu. Atau jika kau ingin bernyanyi, paling tidak rekamlah lagumu, sebarkan pada dunia. ini waktumu, paling tidak untuk seperempat tahun ini kau punya kekuatan untuk itu.

Estiv-yang-bernyanyi: Senyum mereka berbeda. selalu berbeda. aku tidak ingin berdiri di panggung komedi. Apalagi melakukan derma berkali kali. Aku tidak ingin punya fans. Aku tidak ingin musikku di dengar oleh jutaan manusia. Aku tidak ingin senyum jutaan pula. Aku ingin senyum warga taman ini.

cukup taman ini.

kerena kau tahu, vernili yang penuh tanya, tidak ada senyum yang lebih indah dari senyum yang tak disangka sangka.

 

Vernili-yang-bertanya: bahkan senyum berna?

Estiv-yang-bernyanyi: (terdiam)

Vernili-yang-bertanya: kau tidak melupakannya bukan?

Estiv-yang-bernyanyi: Tidak mungkin!!!

Vernili-yang-bertanya: kau kemanakan dirimu yang penuh senyum itu?

 

Masuklah estiv-yang-terdiam (orang yang berbeda dengan estiv-yang-bernyanyi, namun baju sama persis), dengan langkah panjang panjang. Lengan di belakang. Berjalan mengitari ruangan. Estiv-yang-bernyanyi tetap terpaku di bangku taman. Duduk terdiam sambil menunduk.

Estiv-yang-terdiam: apa yang kau lakukan barusan? Apakah sebegitu sulitnya dirimu membiarkan aku gembira?

Vernili-yang-bertanya: aku sama sekali tidak menginginkan kesedihanmu!

Vernili bergerak ke kanan depan panggung, tempat sang kakek yang telah menyelesaikan makan siangnya sedang duduk

Seketika sang kakek terbangun dari bangku, menghampiri estiv-yang-terdiam.

Vernili-sebagai-kakek: justru karena itu aku terus menentang.

Sang kakek menggiring estiv ke bagian kanan belakang panggung.

Seluruh bagian kiri panggung lights off

Setelah menyelesaikan kalimatnya, sang kakek kembali duduk. Berjalan dengan perlahan. Gestur yang jauh berbeda dari ketika ia menjadi vernili

Lalu salah satu dari anak anak datang pula menghampiri. Dari belakang estiv, mengagetkannya.

Vernili-sebagai-anak: Berna berna berna berna! Kalian tidak mungkin bisa bersama.

Setelah menyelesaikan kalimatnya, anak itu kembali bermain. Melompat lompat mengejar bola. Menuju bagian kiri panggung yang gelap.

Vernili-yang-bertanya: maka dari itu aku menjagamu. Karena aku selalu tahu. Setiap lagu mu selalu tentang dia. Senyum yang kau bilang tentang gembira. Juga tentang dia.

 

Lights on panggung kiri

Setiap orang di taman itu membuka baju nya. meninggalkan gaun putih panjang yang sama dengan baju berna.

Estiv-yang-terdiam: karena ini adalah taman berna.

Estiv-yang-terdiam, pergi dari kanan panggung kebagian kiri yang sekarang kembali diterangi. Ia berjalan mundur. Seolah tertarik oleh sesuatu. Estiv-yang-bernyanyi sudah tidak lagi duduk di bangku itu. keluar pada saat lights off. Estiv-yang-terdiam pun duduk di tempat yang tepat seperti tempat duduk Estiv-yang-bernyanyi sebelumnya. Dengan posisi serupa. Tepat ketika ia duduk. Setiap orang melanjutkan aktivitasnya.

Lights off

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s