Lucerne

Singa yang tertidur. Tertusuk, tenggelam, sekarat dalam sebuah pahatan kepedihan abadi. dijadikan monumen yang bukan untuk dipuja. Dikelilingi sekedar harapan keping keping yang dilemparkan.

Kali ini Lucerne, waktu itu Lucerne.

Mungkin ini catatan perjalanan paling murung yang bisa tertulis. Mungkin ini adalah ketakutan seorang manusia yang mengunjungi kota terakhir dari rangkaian momentum.

Dan kejadian bisa menjadi penuh tawa.

Bisa jadi terlalu sederhana untuk dikisahkan.

Hanya saja akan ku ingat.

Sebentar dirimu yang takkan mengerti tulisan ini.

Se saat dirimu yang tentunya kutinggalkan begitu saja. Kubiarkan menjadi senyum yang tak kupahami. Keindahan yang dihina dan dicaci. Sebuah kristalisasi.

 

Seperti ukiran itu.

Seperti 600 yang gugur dan berusaha dikenang.

Seperti mayor yang dirobek lehernya oleh gilotin ratusan kilo.

Kurobek sedikit isi diri. Kutinggalkan untuk bisa sesekali kau nikmati.

Sama sekali bukan rindu, hanya berbagi jerit yang memburu.

Dan dirimu terdiam.

Lalu diriku yang bungkam.

Surai patung raja hutan pun tetap terlelap.

Meregang nyawa.

Menghembuskan nafasku dan nafasmu yang tak akan pernah lagi beradu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s