Yang pernah menjadi satu

Ketika kami memang menjadi satu, dalam lagu, atau khayal yang tetap penuh ragu.

Namun sekejap. Kemudian muncul jarak. Dalam belasan lelap. Kehilangan menjadi mutlak.

Dan setelah itu kami menjadi gamang yang marah. Kehilangan arah. Memaksakan jengah yang sungguh tidak ingin kupaksakan.

Tentu pula mungkin ‘satu’ itu menjadi sekedar momok kesendirian.
Dan hanya bagi mereka, sekedar kesepian.

Memalukan.

Terjerumus dalam lembah yang menjijikan.

Sebuah perjalanan yang memanjakan ketidakpastian. Kemudian terbuang. Hilanglah wahai penjara ketakutan.

‘A pointless journey of mr. Sadistic’ lelah kutuliskan.
‘Then come mr. Romantic rushing in, decapitating hope with a cold rusty knife’ kulanjutkan.

Mungkinkah ini makna bahagia?
Sesuatu yang dianggap tak menawan, setelah warna warni pelangi tak lagi tertawan dalam tulisan.
Mungkin.
Bisa jadi pasti.

Karena mereka yang jatuh. Dalam perasaan atau riang yang terkenang. Selalu mungkin hanya sendiri.

Tidak dianggap penting.
Tidak menjadi lagi dinantikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s