Hari hari yang hilang

Seringkali esok terlalu luas untuk menatap satu wajah saja.

Bukankah kadang mereka yang datang. Lalu pergi. mungkin hanya menjadi satu cerita yang memang seharusnya ada. Dan berakhir dengan tenang. Lalu hilang

Dibiarkan tertinggal begitu saja disana.

Dan semua berlari. Mengejar hal hal yang lebih pasti. Bahagia yang nyata. Kembali memandang dunia dengan dua belah mata.

Kata mereka, semesta terkadang inersia ketika kau menemukan sesuatu (atau satu) yang benar benar berharga.

Bagi saya, sepantasnya kau kembali putarkan alam raya, ketika dirinya memang tidak lagi menganggapmu sama. Hanya kembali sesekali saja.

Pergilah.

Dari mimpi. Dari jiwa. Dari kata kata. Wahai imaji imaji senja.

Dan yang terpenting mungkin dirimu berhenti meng eja kata usir. Biarkanlah ia hilang dengan sendirinya. Tidak lagi hadir. Menuju ingatan yang indah. Melakoni angan yang patah patah. Sekedar itu saja.

Lalu berhentilah mencinta.

Juga berhenti terlalu marah.

Terimalah bahwa dirinya memang pergi. Tidak akan kembali. Meski wujudnya memanfaatkanmu dan sesekali menegur dalam mimpi. Terimalah bahwa ia bukan hanya tidak ada disini. Namun tidak lagi jadi penunggu hati.

Karena kadang. Yang mengikat keberadaannya bukan dia. Bukan dunia. Namun dirimu. Hati yang tidak kunjung mau menerima. Hati yang seolah merasa kesepian. Lalu lupa.

Bahwa sekitarmu sedang memelukmu dengan senyum, juga dekap serta-merta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s