Kucing pesimis

Bulan itu lebih indah jika ditatap dengan dua pasang mata.
Maka datanglah senandung gundah, jika esok, dua bola mata kehilangan pasang satunya.

Seperti kucing hitam itu. Yang terbangun dari tidur kemarin dulu. Yang menyadari bahwa hanya ada jalan buntu. Atau magnesium pahit di lidah. Lalu sepah. Dan mati kelu.

Ia kerjapkan matanya yang berbinar karena cahaya di langit yang kali ini terpaksa ia pandang sendiri.
Dan berkoar ‘putihku, dimanakah kamu kali ini?’

hening pun menjawab dengan pasti.

Kucing putihnya telah menolak dengan manis.
Begitu halus ia tak sadar, begitu lembut ia terbius. Tak terasa. Ia yang lagi lagi mencintai imaji bersama secara berlebih, mati suri. lalu memprakarsai sakit hatinya sendiri.

Sindrom ini harus berakhir, kata kucing hitam pada dirinya sendiri.

Tidak ada lagi penari. Atau warna langit yang akan menemani. Hanya ada gelap malam dan sedikit jejak kucing putih yang ia anggap ada.
‘Kau tidak pantas terus menerus mencintai sebuah angan. Karena bukan itu kasih yang kau dambakan. Kau hanya kesepian. Dan itu wajar’

Lalu kucing hitam melihat lagi kucing putihnya.

Lalu kucing hitam menyapanya. Se normal sebagaimana seekor kucing menegur kucing lainnya.

Dan menunggu.

Menunggu dirinya berkata, “waktu bermainku denganmu telah usai. Aku akan kembali menjalani kisahku”

Kucing hitam pun lagi lagi tersedak tragedi esok hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s