Romantisme. Juang. Mati. Paralisa.

Mereka yang berbaris.
Berkata ‘tidak’ penuh paksa.
Dihimpit hening, lalu menjilat jilat senja yang menodongkan pucuk senjata.

Panas timah itu.
Asap yang mengepul dari laras yang tak lagi terisi.
Memaksanya menyungkur, mengasihi ketiadaan lalu meresap putih yang juga hitam.
Sebagai yang gagal.
Sebagai yang muak dan terpaksa murung di pojok ruang tanpa pintu.
Sebagai senyum.
Dengan semangat penuh menuju nihil yang tak terbendung.

Tidakkah juang, juga cinta, acap berpaling pada sebuah ragu? Sebatas yang terisi ‘tiada’, terpenuhi berkat rasa. Atau mungkin obsesi tanpa sumber daya. Hanya tipu daya.

‘Kukutuk!’ Teriaknya.. ‘Kupeluk’ sahut sisanya. Namun apa? Manusia adalah satu objek akhir zaman yang tiada pernah tersisa bentuk pasti nya. Berlarian kesana kemari lalu terlena pada suara demagog besar disana.

Lalu ia menua.
Lalu ia kehilangan suara.
Lalu dunia terpaksa menghujamkan belati di dadanya.

Maka petuah itu selalu berbunyi. ‘Sunyi itu murung nak. Rindu itu pun tidak akan pernah terpenuhi oleh definisi kita, apalagi kata’
‘Maka menyerahlah’
Karena cinta. Seperti mati. Ada sebagai tertunda.

Sebagai cerita pendek yang berakhir tanpa pernah bertutur apa apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s