Petilan kontempo perubahan

Di satu sisi aku lah puisi.

Dan aku mimpi mimpi.

Mimpi apa? Atau lebih tepatnya mimpi siapa?

Mimpi mereka.

Kau rela?

Lalu apa? Bukankah kamu yang seharusnya paling tahu. Engkau puisi. Tapi juga filsuf yang mencoba memahami diri. Maka kau pasti paling tahu, bahwa hidup pada akhirnya..

…Tidak ada guna yang pasti…

…Dan mimpi…

Hanya menjadi mimpi. Terwujud pun akan tertimpa oleh keinginan lain lagi.

Maka kamu tetap berpuisi.
Tapi tulislah puisi tentang hidup. Bukan hidup dalam puisi yang kau tulis sendiri.

Itu dia! Paling tidak hidupku dalam puisi itu abadi. Tidak ada yang pergi. Tidak ada yang meninggalkan aku sendiri.

Karena di dunia puisimu. memang cuma ada kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s