sebuah rangkai kelabu

Puisi.
Memang kadang dijebak dalam sebuah pemujaan.
Selalu tentang sesuatu yang berusaha ditinggikan.
Menghilangkan jalan pintas, dan kemudian mengaburkan apa yang nyata, apa yang riil (realita), dan kemudian membentuk imaji akan suatu yang agung.

Kadangkala cinta.

Seringkali cinta.

Ketika tuhan takluk pada standardisasi. Tidak begitu dengan hubungan manusia. Kita tetap berpijak. Kita tetap bisa menggenggam sesama. Namun kadang sebersit detail antara saya dan kamu. Membangun bait bait. Menjadi belulang dan sel sebuah prosa.

Karena kadang senyum itu indah.

Tidak.

Untukmu selalu indah.

Seperti ketika pertama mendengar merdu dari siksa sebuah kata rindu. Atau menjalin pejam yang tak mau usai meski dirimu entah ada. Entah tiada.

Apakah mungkin ini konsekuensi?
Atas kontemplasi.
Atas ketakutan akan hilangnya arti.
Atas dirinya yang memang takkan kembali.

Memang pada akhirnya.. Yang kesepian akan memuja sakit hati. Atau kasih yang selalu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s