Yang akan selalu kumiliki.

Di satu sisi engkaulah dispersi.

Cahaya yang gagal namun terpaksa menjadi pelangi.

Atau gelitik hangat matahari.

Yang kemudian pergi tanpa izin kembali.

Indah yang tidak boleh dipanjatkan.

Kecintaan yang pantang dibisikkan.

 

Seperti selayaknya yang tinggi. Yang mencari arti.

Atau dewi itu sendiri. Kau hadir. Entah mengapa lebih cantik dari hari ini.

Sayangnya tertulis dengan jelas dalam kitab awal mula zaman. Tak semua kecantikan pantas disentuh oleh makhluk atau manusia.

Itulah dogma. Itulah agama suka cita.

 

Lalu aku yang bodoh bertanya.

Mungkinkah obsesi dibentuk menjadi sembah?

Kalimat cinta diubah jadi pagan yang rendah?.

Tidak mungkin kata mereka.

Dunia niscaya tenggelam dalam gelak tawa mendengar dramatisasi kasih ini.

 

Lalu aku yang bingung berpaling.

Memuja bintang pagi yang sejenak pergi untuk sakit hati.

Lalu terjebak dan tak mau pulang.

Lalu terjerembab dan diseret hilang.

 

Apakah ini begitu tabu?

Paling tidak kisah itu kau jalani.

Nyata tidak nyata, ada dia mengharapkan datangmu setiap akhir minggu.

Kemudian aku.

Terpaksa membenci tubuh tubuh busuknya.

Atau lidah lidah pendeknya.

Bahkan senyum manisnya.

Hanya mencintai imaji tari, warna, atau lengkung lembutnya.

Tetap menjadi E***** atau biru pelangi. Atau tembok ratapan yang dipuja lagi.

 

Dan lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s