Potongan naskah ‘Para pencari hutan’ (URUTAN ACAK)

Untuk keperluan pementasan Religious study

Auditorium SBM 02/03/12

KUCING:
hutan-ku, hutan-ku, hutan-mu hutan-mu

SAPI:
berarti hutan mu salah!

DOMBA:
tahu darimana?

SAPI:
kepercayaan.

KUCING:
kalau saya percaya dengan berbeda. Bahkan dengan kucing lain, lalu apa? Toh hutan bagi kami-kami ini isinya itu-itu saja. Peganan dan segala rupa kenikmatan tanpa akhir zaman.

MERPATI:
lalu apa? Selalu itu bukan pertanyaan terpentingnya? Dan kita kembali bertanya, atau malahan ditanya? Hutan? Kemana hutan-mu? Bisakah hutan-mu membawa ke surga-ku? Kalian sepertinya membicarakan toleransi dari tadi. Tapi itu sulit. Karena selalu ada prasangka. Setelah itu semuanya mau benar sendiri.

DOMBA:
apakah kamu tidak merasa benar?

MERPATI:
saya tidak memaksakan kebenaran saya.Maksud saya, daripada melulu bicara mengenai benar, bukankah lebih baik merawat kebaikan?

KUCING:
tapi bagaimana bisa yakin? Benar itu seharusnya absolut.

DOMBA:
dan sudah dari sananya itu… bahwa yang percaya hutan warna kuning dan hutan warna hijau akan saling menyalahkan.

MERPATI:
itu untukmu, tapi apakah jejak? Negara ini seharusnya anti kekacauan bukan? Toleransi satu-satunya jalan.

SAPI:
justru kepercayaan akan hutan yang menghadirkan perdamaian!

MERPATI:
jika saya bilang apel ini merah dan kamu bilang apel ini hijau, kita akan berdamai begitu saja?

SAPI:
tapi apel itu hijau.

MERPATI:
dan saya mengerti itulah kebenaran untuk kamu. Damai bukan? Jika saya memaksakan warna apel ini, minimal ada argumen panjang  berjam-jam. Dan satu lagi, hei sipir! Apa warna apel ini?

SIPIR:
kuning!

MERPATI:
kita tidak pernah tahu apa itu kebenaran tertinggi. Apalagi hutan itu sendiri, sang pencipta kebenaran.

MONYET:
kamu itu sebenarnya binatang apa sih?

BINATANG ANEH:
mirip dengan kamu! Minoritas yang terbuang dan korban laten undang-undang.

MONYET:
anda tidak mungkin sama dengan saya. Karena saya bukan apa apa. Bentuk saya memang seperti ini, tapi…

BINATANG ANEH:
masih terus mencari bukan?

MONYET:
betul! Dan mereka yang dalam pencarian akan selalu hilang bentuk. Dan dijauhi para pecinta hutan.

BINATANG ANEH:
jadi kamu masih belum memilih jalan?

MONYET:
begitulah.

MERPATI:
tapi hidup itu harus punya jalan.

SAPI:
dimana pendirianmu?

KUCING:
harus ada pegangan.

DOMBA:
kamu tidak akan pernah tenang jika begitu.

MONYET:
ahahahaha.. memangnya kalian semua sudah tenang? Hutan itu, saya rasa, bukan jawaban, hanya saja menghentikan pertanyaan.

BINATANG ANEH:
bagi dia benar itu tidak ada. Yang baik adalah yang baik menurut saya. Begitu pula menurut kamu. Tidak perlu memaksa

MONYET:
itulah arti toleransi!

BINATANG ANEH:
itu bukan toleransi, itu namanya bingung sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s