Pengamat

Siang yang tidak terlalu terik, tanggal 25 januari di tahun terakhir dunia ini -menurut mereka.

makan siang yang cukup biasa. menu yang biasa. hanya keberadaan penyaji masakan dengan masa otot berlebih saja yang baru di sesi kali ini.

saya selalu menganggap ritual ini adalah sebuah sesi. seperti sesi konsultasi atau sesi curhat dalam bahasa anak zaman sekarang.

namun bentuk curahan itu seringkali tidak membentuk murung. justru imbas dari murung. kemudian dibalas sesekali dengan kalimat basa basi dari teman yang ‘katanya’ mengerti. namun memang tak pernah begitu. manusiawi saja, tidak perlu dimaki atau dikutuk.

justru sesi saya lebih murung dari sesi mereka. saya tidak berangkat dari ratap, justru terjun ke dalamnya. bukan semata karena saya tidak memiliki teman untuk berbincang. atau buku yang saya baca begitu suram tiap nadanya, tapi sebersit kalimat kalimat di sekitar saya, yang diperbincangkan oleh berbagai wajah bersama lingkar sosialnya.

apakah seperti ini watak manusia?

dua wanita di serong depan saya tak henti henti membicarakan seorang wanita – yang tidak ada disana. ia mengatakan bahwa ‘kuningan itu katrok’, atau ‘dari awal saya melihatnya pun sudah tidak enak’. saya tidak perduli dengan pernyatannya, namun lebih pada konteks adanya aroma sindiran di sana, yang lirih dan berkali kali, menjurus pada gunjingan yang mencoreng manusia itu sendiri.

satu jam lamanya mereka membicarakan wanita tersebut. saya merasa jijik. tapi kemudian saya tersentak ketika menyadari bahwa kedua wanita ini jauh dari menarik parasnya. apakah jangan jangan karena itu?

sentakan itu tak berakhir dan membuat saya mual melihat diri saya sendiri.

jika kedua wanita itu indah secara bentuk, mungkin saya bahkan tak akan protes sedikitpun. justru ingin tahu.

apakah benar itu? benarkah saya serendah itu?

manusia. hubungan antar nya dan estetika. kemudian saling berhubung lagi, dan membentuk perspektif dari saya. saya yang terjun bebas ke dalam murung.

jurang itu semakin gelap. dihantui oleh kecewa atau marah yang bahkan ingin di terima dengan spesial. hingga saya melihat gerombolan pria di sebelah saya yang sama tidak menariknya.

enggan namun terjebak, saya memberikan perhatian pada pembicaraan mereka.

amat trivial. tidak menarik. namun sebagaimana semua pembicaraan, banyak diantaranya dimulai dengan ‘saya’

bahkan tulisan ini pun menyerah pada ke ‘saya’ an

Dan disitulah saya melihat bahwa saya belum terlentang tak berdaya di ujung jurang. melongok sedikit dan masih jauh ujung hitam dalam itu disana. tak terlihat.

muak akan manusia tak akan kunjung berhenti begitu saja.

subjektifitas itu selalu bersembunyi di lorong lorong sempit. tidak berakhir namun tidak juga terlihat jelas.

kita lah gerombolan kaum egois yang semua muanya dipandang dari diri. bahkan ketika dunia pun berusaha dipahami, siapa yang memahami? lagi lagi diri.

tidak ada sedikitpun yang mampu kita lakukan untuk bisa lepas dari penjara diri.

itulah murung itu. itulah jurang itu. saya pun lompat ke sana dengan serta merta.

Menyerah saja.

They say its lonely up top

I say its always been like that.

Lower ones simply could not understand

Advertisements

2 thoughts on “Pengamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s