We are the crucified

Bukan tentang bidadari. Hanya tentang pergi.

Mungkinkah kau katakan hari ini. Bahwa semua hanya mimpi.

Kemudian duduk di samping sprei putih. Yang tak bisa lagi kusebut tempat bersimpuh. Hanya resah. Hanya resah. Hanya resah.

Lalu muntah.

Tidak, tidak begitu. Aku dengan jelas melihat dirimu malam itu. yang tidak bergeming. Tanpa air mata dan berkata aku sedang mencoba kuat untuk kamu juga.

Sayangnya aku percaya. Aku marah karena begitu mudah dan begitu saja.

My angel, lie to me and tell me I’m dreaming. Please wake me up.

As the water drips from the sky. Could it be that its just a dream, that I’m still beside her?

Begitu menakutkan. Ketika bahkan seribu tangan ini tak bergerak. Entah enggan, entah tak mampu.

Namun tak satupun yang menarik bayanganmu. Kemudian hilang. Tanpa pernah melirik sedikit saja ke lubang yang kini kusebut ‘pagi’.

I could have carried you, instead of buried you.

malam lalu datang tergesa gesa. Seperti dua puluh empat jam yang begitu kehilangan mentari di setengah hidupnya. Pagi pun menjadi lebih berarti karena tak selamanya menanti dengan senyum hangat.

Namun malamku datang dengan langkah yang berat. Cepat. Namun berat.

Membentuk dengung yang tak pernah ku sukai.

Kamu tetap pergi. Tidak apa. Bukankah kumaafkan hanya se sebentar sang hari kehilangan surya pagi?

Namun sesuatu pergi hari itu. lebih dari sekedar diri atau ucapan ‘kau dimana’ beberapa jam sekali.

Hai bibir palsu jauh disana. Maukah berbohong padaku sekali lagi?

Maybe for tonight you could ease my curse, as the pain constantly begging to stay.

Bidadari bertopeng putih pucat. Aku memohon untuk dusta itu sekali saja. Panjatkanlah untukku.

Katakanlah, “ini semua hanya akan menjadi ingatan buruk di esok hari”

lalu semua yang begitu sakit tidak selamanya begitu nyata.

Seperti ketika mereka berkata telah terlalu lama dirinya kehilangan wanitanya.

Tidak lama. Tidak selama aku yang melihatmu pergi setiap waktu.

“Apalah daya sebuah bibir. Yang terlalu banyak berbohong. Tapi tidak untuk kali ini. Justru karena sakit ini hanya milikmu. Aku tak akan mau membohongimu. Tidak baik untukku”

 

katakanlah. Katakanlah. Bahwa kau tidak pernah pergi selama ini.

“aku benar benar pergi”

katakanlah. Katakanlah. Bahwa kau tetap memikirkanku meski sesekali.

“aku bahkan tak ingat bahagia apa yang pernah kau bawa untukku”

katakanlah katakanlah. Bahwa kau selalu mencintaiku.

“Tidak. Tidak lagi”

Then you let me down here.

A place where lust is just an excuse for tomorrow’s awry

A place where they scream in silent.

A place where there comes an ending with no stories.

A place where no nightmare could end.

Not even when I wake up.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s